Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita DaerahBerita NasionalBerita UtamaHukum & Kriminal

TNI Turun Redam Ketegangan Mapolres Sumba Barat

27
×

TNI Turun Redam Ketegangan Mapolres Sumba Barat

Sebarkan artikel ini

SUMBA BARAT |BUSERKOTA.Com — Ketegangan sempat menggantung di halaman Mapolres Sumba Barat, Selasa (15/9/2026). Di tengah massa yang datang membawa jenazah seorang warga, situasi berubah panas hingga berujung pada penyerangan dan perusakan sejumlah fasilitas kepolisian.

Di tengah suasana yang memanas itu, personel Kodim 1613/Sumba Barat bersama Yonif TP 930/Toda Tebi turun ke lapangan. Mereka membantu Polres Sumba Barat memperkuat pengamanan sekaligus meredakan ketegangan melalui pendekatan persuasif kepada masyarakat.

Kehadiran personel TNI tersebut merupakan respons atas permintaan Kapolres Sumba Barat kepada Dandim 1613/Sumba Barat. Puluhan personel dikerahkan di sekitar Mapolres, sembari mengimbau warga agar menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperlebar persoalan.

Langkah itu tidak semata-mata berorientasi pada pengamanan fisik. Di tengah emosi massa yang masih tinggi, personel TNI mengedepankan komunikasi, pendekatan humanis dan tindakan terukur dengan tetap memperhatikan keselamatan masyarakat maupun petugas.

Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution mengatakan keterlibatan personel Kodim 1613/Sumba Barat dan Yonif TP 930/Toda Tebi merupakan bagian dari sinergi TNI-Polri untuk membantu menjaga keamanan wilayah. “Personel Kodim 1613/Sumba Barat membantu pengamanan atas permintaan Polres Sumba Barat, dengan mengedepankan pendekatan persuasif serta membantu menenangkan masyarakat agar situasi tidak semakin berkembang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kehadiran TNI diarahkan sebagai kekuatan pendukung untuk menjaga situasi tetap terkendali. Pendekatan persuasif ditempatkan sebagai bagian penting agar ketegangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas, sementara penyelesaian persoalan tetap diarahkan melalui komunikasi dan mekanisme hukum yang berlaku.

Berawal dari Penindakan Dugaan Pencurian Sapi

Peristiwa itu bermula dari meninggalnya seorang warga Desa Baliledo, Kecamatan Loli, Sumba Barat, Jowa Tana, setelah sebelumnya mendapat tindakan kepolisian dalam proses penindakan terhadap dugaan tindak pidana pencurian sapi.

Berdasarkan informasi awal yang diterima, penindakan berlangsung pada Selasa pagi. Personel Satreskrim Polres Sumba Barat mendatangi rumah yang bersangkutan. Saat petugas masuk, warga tersebut disebut mengambil senjata tajam berupa parang dan berusaha melawan sebelum melarikan diri ke arah belakang rumah.

Petugas kemudian melakukan pengejaran. Tiga kali tembakan peringatan dilepaskan ke udara agar yang bersangkutan berhenti. Namun, karena tetap berusaha melarikan diri, petugas selanjutnya melakukan tindakan untuk melumpuhkan dengan melepaskan satu tembakan yang diarahkan ke bagian kaki.

Dalam proses tersebut, pergerakan yang bersangkutan ketika berlari dan terjatuh menyebabkan tembakan mengenai bagian bahu kanan. Ia kemudian dibawa untuk memperoleh penanganan medis, tetapi selanjutnya dinyatakan meninggal dunia.

Kabar tersebut kemudian mengalir cepat dari rumah ke rumah. Pada sore hari, massa dari Desa Baliledo membawa jenazah korban menuju Mapolres Sumba Barat. Kedatangan massa yang semula menjadi bagian dari tuntutan pertanggungjawaban kemudian berkembang menjadi aksi perusakan terhadap sejumlah fasilitas Mapolres.

Kepala desa, tokoh masyarakat dan pihak kepolisian berupaya melakukan pendekatan untuk menenangkan massa. Namun, komunikasi dan negosiasi dengan pihak keluarga belum menghasilkan kesepakatan. Ketegangan kembali meningkat hingga terjadi penyerangan dan perusakan di Mapolres Sumba Barat.

TNI-Polri Menjaga Agar Situasi Tak Meluas

Menyikapi perkembangan tersebut, personel Kodim 1613/Sumba Barat bersama Yonif TP 930/Toda Tebi memperkuat pengamanan bersama Polres Sumba Barat. Selain menjaga kawasan Mapolres, personel TNI juga melakukan komunikasi langsung dengan masyarakat guna membantu menurunkan tensi ketegangan.

Hingga saat ini, personel Kodim 1613/Sumba Barat bersama Yonif TP 930/Toda Tebi, serta unsur Kompi Brimob Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya, masih melaksanakan pengamanan dan pemantauan situasi.

Pemantauan difokuskan pada kawasan Mapolres Sumba Barat dan sejumlah lokasi yang berpotensi menjadi titik konsentrasi massa. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya perkembangan situasi yang lebih luas.

Di sisi lain, jenazah Sdr. Marsel telah dikawal personel Kodim 1613/Sumba Barat bersama pihak keluarga menuju rumah duka di Desa Maradesa, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Kabupaten Sumba Tengah.

Pengawalan itu dilakukan untuk membantu memastikan proses pemulangan jenazah berlangsung aman dan tertib, di tengah situasi keamanan yang masih mendapat perhatian aparat.

Secara kontekstual, rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan betapa cepat persoalan yang bermula dari sebuah tindakan penegakan hukum dapat berkembang menjadi ketegangan sosial ketika menyentuh rasa kehilangan, tuntutan pertanggungjawaban dan emosi masyarakat. Karena itu, komunikasi antara aparat, keluarga, tokoh masyarakat dan warga menjadi penting agar penyelesaian persoalan tidak bergeser menjadi konflik terbuka.

Kodam IX/Udayana melalui jajaran kewilayahannya terus mendorong sinergi TNI-Polri bersama pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan seluruh elemen masyarakat. Semua pihak diharapkan mengedepankan komunikasi, menahan diri dan menyelesaikan setiap persoalan melalui mekanisme yang berlaku.

Sebab, di tengah suara massa yang meninggi dan ketegangan yang belum sepenuhnya reda, keamanan bukan hanya tentang seberapa kuat aparat berdiri menjaga sebuah tempat, melainkan tentang seberapa jauh semua pihak mampu menahan diri agar sebuah persoalan tidak kehilangan jalan pulang menuju penyelesaian yang damai.

 

Penulis: Pendam IX/Udy)Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *