WAMENA |BUSERKOTA.Com— Pagi di jalur pegunungan Papua Pegunungan itu semestinya hanya menyisakan deru mesin dan panjang jalan yang membelah alam. Namun Selasa, 15 September 2026, perjalanan seorang sopir lajuran bernama Aris Sanda alias Bapak Tasya berubah menjadi sebuah tragedi yang hingga kini menyisakan tanda tanya.
Aris, warga asal Toraja, Sulawesi Selatan, dilaporkan disandera kelompok bersenjata di kawasan pertigaan Danau Habema, Gunung Boy, Kabupaten Jayawijaya, sekitar pukul 07.00 WIT.
Kabar itu kemudian bergerak cepat. Sebuah video beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang pria yang disebut sebagai Aris tampak berada di bawah todongan senjata laras panjang. Ia terdengar menyampaikan pernyataan yang mendukung perjuangan OPM sekaligus mengkritik perhatian pemerintah Indonesia terhadap masyarakat Papua.
Di bawah todongan senjata, sebuah suara manusia dapat terdengar lantang. Tetapi di balik suara itu, pertanyaan yang lebih sunyi justru muncul: apakah sebuah pernyataan yang lahir dalam situasi penuh ancaman benar-benar dapat dibaca sebagai suara bebas?
Juru bicara TPNPB Operasi Papua Merdeka (OPM), Sebby Sambom, membenarkan adanya informasi mengenai penyanderaan tersebut. Namun, ia mengatakan pihaknya masih menunggu laporan konfirmasi dari pasukan TPNPB.
“Ya benar, tetapi kami masih menunggu laporan konfirmasi dari Pasukan TPNPB. Nanti kami informasikan,” ujar Sebby, Selasa.
Di sisi lain, aparat keamanan belum serta-merta membenarkan seluruh rangkaian informasi yang beredar.
Kapen Koops TNI Habema Letkol Inf Wirya Arthadiguna mengatakan aparat masih mendalami peristiwa tersebut. Personel juga disebut melakukan penyisiran menuju lokasi kejadian untuk memastikan fakta di lapangan.
Aris bukan nama baru di jalan-jalan Papua. Ia disebut telah menjalani pekerjaan sebagai sopir dan melayani mobilitas masyarakat di wilayah tersebut sejak 2013.
Lebih dari satu dekade, jalan menjadi bagian dari hidupnya. Mesin kendaraan, penumpang, tanjakan dan tikungan pegunungan menjadi keseharian yang mungkin sudah begitu akrab baginya.
Namun pada pagi itu, perjalanan tersebut berhenti dalam situasi yang jauh dari biasa.
Klaim penembakan kemudian muncul
Ketegangan semakin meningkat setelah TPNPB Kodap III Ndugama Darakma kemudian mengklaim telah menembak mati seorang sopir di jalur Trans Wamena–Nduga pada hari yang sama.
Klaim tersebut menjadi bagian paling serius dari rangkaian informasi yang beredar karena berkaitan langsung dengan keselamatan Aris Sanda. Namun, informasi mengenai kondisi akhir korban tetap memerlukan konfirmasi resmi dan independen dari aparat atau pihak berwenang.
Sejumlah laporan media pada Selasa malam juga memuat klaim TPNPB mengenai penembakan seorang sopir di jalur Trans Wamena–Nduga. Identitas korban dan sejumlah detail kronologi dalam klaim tersebut masih disebut membutuhkan verifikasi independen.
Bukan sekadar soal satu perjalanan
Peristiwa ini memperlihatkan betapa rentannya warga sipil yang menjalankan aktivitas ekonomi di kawasan yang masih menghadapi konflik bersenjata. Sopir, penumpang dan pekerja lapangan berada di ruang yang sering kali mempertemukan kebutuhan mobilitas masyarakat dengan risiko keamanan yang tinggi.
Dalam perspektif hukum dan kemanusiaan, keselamatan warga sipil harus menjadi titik utama. Setiap klaim mengenai penyanderaan, intimidasi ataupun penembakan membutuhkan pembuktian melalui pemeriksaan lapangan, identifikasi korban, keterangan saksi dan bukti lainnya. Video yang beredar di media sosial dapat menjadi informasi awal, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan keseluruhan konteks peristiwa.
Karena itu, klaim dari kelompok bersenjata maupun informasi awal dari sumber lain tetap perlu ditempatkan sebagai klaim sampai memperoleh verifikasi dari pihak yang berwenang.
Jalur Wamena–Nduga kembali memperlihatkan wajah keras Papua Pegunungan: sebuah jalan yang dibutuhkan masyarakat untuk bergerak, bekerja dan bertahan hidup, tetapi pada saat yang sama menyimpan risiko yang tidak selalu terlihat dari balik kaca kendaraan.
Bagi Aris Sanda, perjalanan yang telah ia jalani sejak 2013 mungkin bermula seperti perjalanan lainnya—mengantar orang, menembus jalan pegunungan dan kembali membawa cerita ke rumah.
Namun pada 15 September 2026, nama seorang sopir dari Toraja itu terseret ke dalam pusaran konflik bersenjata.
Dan ketika suara senjata mengalahkan suara mesin kendaraan, yang tersisa bukan hanya pertanyaan tentang siapa melakukan apa, melainkan juga satu pertanyaan kemanusiaan yang jauh lebih mendasar:
sampai kapan jalan yang seharusnya menghubungkan manusia harus menjadi tempat orang kehilangan rasa aman?














