Mama Sindi (Kanan) Romo Gusti Iwanti (Kiri) ((Foto:Ist))
BORONG |BUSERKOTA.Com)— Valentinus, bapa Sindi mengungkap skandal hubungan asmara antara Romo Gusti Iwanti dan Istrinya, atau mama Sindi.
Dalam keterangan pers di Borong, Valentinus mengungkap awal mula memergoki Istrinya, mama Sindi sedang tidur derdua dalam satu kain selimut.
Bapa Sindi, mengakui hubungan baik dengan Romo Gusti. Bahkan dia menganggap seperti keluarganya sendiri. Dia mengisahkan, pada selasa 23 April 2024 pukul 18:04 wita, Romo Gusti mengirimkan pesan via WhatsApp kepada Mama Sindi untuk menyiapkan makan malam bersama di rumah.
Berikut hasil chattingan antara Romo Gusti dengan mama Sindi.
Rm. Gusti: Di mana kamu e?
Mama Sindi: Di rumah
Romo Gusti : Siapa siapa di rumah
Mama sindi: Kami ada semua
Romo Gusti: Sy bisa datang makan di rumah kah kami tiga. Kami baru pulang cari kayu api
Mama sindi: io
Romo: Terlalu singkat jawaban ini biar batal saja e malu lagi jadinya belum lagi muka bengkak tuan rumah sebentar
Romo Gusti: Saya telpon dikit mama indi. Mama indi sy bisa telp dikit
Bukti chat ini diambil dari hp istri saya yang tertinggal, tidak sempat dibawah saat meninggalkan rumah.
Dimenjelaskan, sekitar pukul 20:00 wita Romo Gusti bersama dua orang sopir, yaitu Save dan Kristo. Ditambah Satu orang tukang masak paroki bernama Melin. Dan anak Kitin tiba di rumah di Lembur setelah sampe di rumah, Romo Gusti bersama keluarga Bapa Sindi menyuguhkan minuman kopi dan energen. Selanjutnya kami makan malam bersama.
“Selanjutnya, sekitar pukul 21:00 wita setelah selesai makan malam kami sharing sambil main kartu (yang main kartu saya, Romo Gusti, Kristo dan istri saya.
Sedangkan Melin, Titin dan Siren sudah masuk ke kamar untuk tidur) sampai dengan sekitar pukul 00:00 wita. Selanjutnya romo gusti pamit untuk pulang ke pastoran dan istri saya menawarkan (NEK: kebiasaan kita orang manggarai manawarkan) untuk menginap karena sudah larut malam,” kata Valentinus dengan raut wajah lesuh.
Akhirnya, Romo Gusti pun menyetujui untuk menginap. Hingga dia berbaring di tempat tidur samping meja makan dan mengajak kristo untuk tidur bersama, tetapi kristo (sopir) menolak karena kata, Romo kalau tidur sering mendengkur.
Pada saat itu Bapa Sindi dan kristo berencana untuk tidur di sofa depan ruang tamu. Tidak berselang lama istri mama Sindi memangil saya untuk meminta romo pindah tidur di dalam kamar. Namun, Valentinus sempat tidak menyetujui saran dari Mama Sindi. Tetapi menurut Mama Sindi, tidak baik seandainya Romo Gusti tidur di samping meja makan.
Dengan berat hati Valentinya menyetujui saran dari Mama Sindi. Sehingga dia meminta Romo untuk tidur didalam kamar dan Tomo pun menyetujuinya.
“Selanjutnya saya dan Kristo pindah di tempat tidur di samping meja makan yang semulanya ditempati romo. Sedangkan istri saya (mama sindi), siren (anak bungsu), Melin dan Kitin tidur di kamar tengah. Santo (anak ke dua) dan save tidur di kamar depan. Setiap kamar tidur masing masing memiliki pintu lengkap dengan kain gorden,” Kisah Bapa Sindi.
Betapa kagetnya, sekitar pukul 02:00 wita dia melihat istrinya keluar dari kamar menuju tempat saya dan Kristo tidur, pada saat itu Bapa Sindi mengaku belum tidur. Saat itu juga, Ia pun mulai mecuriga mengapa istri saya belum tidur.
Valentinus melihat mama Sindi kembali ke dalam, tetapi bukan ke kamar tidurnya melainkan menuju ke kamar yang ditempati Romo Gusti tidur. Tidak berselang lama karena merasa janggal saya pun ikut masuk ke kamar yang ditempati romo, pintu kamar dalam keadaan tidak terkunci.
Saat itu Bapa Sindi mendapati istrinya, mama Sindi dan Romo Gusti, tidur berdua dalam satu selimut. Melihat mama sindi tidur dalam satu selimut dengan romo, bapa Sindi syok lalu memegang kaki istrinya, sambil menarik selimut, ia melihat mereka sedang berpelukan.
“Melihat itu saya emosi dan marah lalu menampar mereka berdua. Saya menangis sambil berteriak mengancam mama sindi. Kemudian saya ke dapur untuk mengambil parang, setelah saya kembali, istri saya sudah lari ke luar rumah sedangkan romo tetap di situ untuk menenangkan saya,” jelasnya.
Mendengar teriakan Bapa Sindi, semua orang didalam rumah terbangun dari tidur. Santo anak ke duanya berlari ke luar rumah mengejar istri saya sedangkan Melin, Save dan Krtisto langsung berlari ke luar rumah, sementara Siren dan Kitin tetap berada didalam rumah.
Melihat bapa Sindi memegang parang, Romo Gusti langsung mendorongnya dan menindih badannya di tempat tidur sambil mengamankan sebilah parang di tangannya Bapa Sindi agar tidak mengejar istrinya yang sudah berlari keluar rumah. Kalah itu, dia merasa terpukul, dia menangis sambil memaki Romo Gusti karena dia merasa dikhianati.
Beberapa menit kemudian Santo anaknya kembali kedalam rumah tetapi tidak bersama istri saya, dengan penuh emosi santo membanting pintu dan menarik bapa Sindi dari tindihan Romo Gusti. Kejadian ini, kata Bapa Sundi, kejadian in disaksikan langsung oleh anaknya Siren dan Kitin.
Kemudian romo gusti berlutut memohon ampun dan menangis sambil berkata “bapa Indi ampong, saya yang salah, kamu pukul saja saya”.
Hal ini disampaikan kurang lebih 4 kali kepada saya, romo juga memohon ampun dan memeluk anak santo sambil menangis dan berkata “somba somba, saya minta maaf, tolong jangan kasih tau ke siapa-siapa, kalau kamu angkat masalah ini, hancur saya”. Di saat itu saya hanya menangis dan menyuruh Romo pulang, sambil berkata “lebih baik romo pulang sebelum saya teriak memanggil keluarga di sekitar rumah saya,” kata Bapa Sindi.
Dia menambahkan, sekitar pukul 03:00 wita sebelum Romo bersama karyawan pulang, sekali lagi dia bersujud dan berkata kepada Valentinus “bapa Indi, saya minta maaf. Saya sudah terlanjur dengan mama Indi, kasus ini tolong diam-diam saja sebab kalau ite bongkar, saya hancur”. Kejadian ini disaksikan oleh Santo, Airen, Kitin dan salah satu tetangga yang sempat hadir karena terbangun mendengar keributan di rumahnya.
Setelah itu Romo dan rombongannya pulang kembali ke paroki kisol.
Keesokan harinya, tepat Rabu 24 April 2024 sekitar pukul 19:00 wita, bapa Sindi bersama santo, dan dua orang adik iparnya, menuju ke kevikepan borong untuk melaporkan kejadian tersebut.
“Laporan saya diterima langsung oleh romo Simon Nama, Pr (vikep borong) 14. Dari hari kejadian sampai dengan kronologi kejadian ini dibuat, saya bersama keluarga tidak mengetahui keberadaan istri saya,”.***
(Sumber: Manggarainews.com)














