Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
AgamaBerita NasionalBerita UtamaPeristiwaSosial

Bukan Hanya Hadir di Masjid, Kapolda NTT Titip Pesan Keselematan Bagi Keluarga

2
×

Bukan Hanya Hadir di Masjid, Kapolda NTT Titip Pesan Keselematan Bagi Keluarga

Sebarkan artikel ini

Dari Masjid Nurussa’adah di Kota Kupang, Jumat Keliling menjadi ruang perjumpaan antara polisi dan masyarakat: merawat kamtibmas, mengingatkan bahaya alkohol, hingga mengajak orang tua melindungi anak-anak dengan helm.

KUPANG | BUSERKOTA.COM — Di antara saf-saf salat Jumat di Masjid Nurussa’adah, Kelurahan Fontein, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (23/10/2026), kehadiran seorang kepala kepolisian daerah membawa pesan yang melampaui seremoni keagamaan. Ada persoalan keamanan yang ingin didekatkan kepada kehidupan sehari-hari: kekerasan yang dapat berawal dari hilangnya kendali diri, kecelakaan yang merenggut keselamatan, dan kelalaian kecil di jalan raya yang bisa berakibat panjang bagi sebuah keluarga.

Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol. Reza Arief Dewanto, S.I.K., datang bersama sejumlah pejabat utama Polda NTT untuk melaksanakan salat Jumat berjemaah. Namun, Jumat Keliling yang berlangsung sekitar pukul 11.30 WITA itu tidak berhenti ketika ibadah selesai. Di hadapan para jemaah, pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) disampaikan, sebelum kegiatan dilanjutkan dengan pembagian makanan Jumat Berkah.

Di ruang perjumpaan seperti inilah, pesan kepolisian menemukan konteksnya: keamanan bukan hanya perkara penindakan setelah pelanggaran terjadi, melainkan juga kesadaran yang dibangun sebelum sebuah peristiwa berubah menjadi penyesalan.

Jumat Keliling tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung program Quick Wins Kapolri Tahun 2026 sekaligus memperkuat hubungan antara Polri dan masyarakat melalui pendekatan yang lebih dekat, terbuka, dan humanis.

Ketika alkohol, amarah, dan jalan raya bertemu

Ada peringatan yang secara khusus dititipkan Kapolda NTT kepada masyarakat. Melalui Kabidhumas Polda NTT, Kombes Pol. Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., ia menyoroti persoalan penganiayaan dan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah NTT, terutama risiko yang berkaitan dengan konsumsi minuman beralkohol.

Alkohol dapat mengganggu kemampuan seseorang mengendalikan diri, menilai risiko, dan mengambil keputusan. Dalam situasi tertentu, kondisi tersebut dapat memperbesar kemungkinan terjadinya kekerasan maupun kecelakaan lalu lintas.

Karena itu, imbauan yang disampaikan bukan semata-mata larangan, melainkan ajakan untuk memahami bahwa sebuah keputusan pribadi dapat membawa akibat bagi orang lain.

Pesan Kapolda itu disampaikan melalui Kabidhumas Polda NTT.

“Kapolda NTT mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kamtibmas dan menghindari perilaku yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jangan sampai konsumsi minuman beralkohol berujung pada penganiayaan atau kecelakaan yang membahayakan keselamatan jiwa,” ujar Kombes Pol. Henry Novika Chandra, menyampaikan pesan Kapolda NTT.

Peringatan tersebut memiliki dimensi sosial yang penting. Perselisihan yang semestinya dapat diselesaikan melalui percakapan bisa berubah menjadi kekerasan ketika emosi mengambil alih pertimbangan. Demikian pula perjalanan yang seharusnya mengantarkan seseorang pulang dapat berakhir dengan kecelakaan ketika keselamatan diabaikan.

Kapolda NTT mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan pada malam hingga dini hari, menjaga kerukunan, serta menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin tanpa menggunakan kekerasan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, mencegah konflik bukan hanya tanggung jawab aparat. Keluarga, lingkungan tempat tinggal, tokoh agama, dan setiap warga memiliki peran untuk membangun kebiasaan saling mengingatkan sebelum persoalan berkembang menjadi peristiwa yang merugikan banyak pihak.

Helm kecil, perlindungan besar bagi keluarga

Dari persoalan kamtibmas, perhatian beralih ke jalan raya—tempat keselamatan kerap ditentukan oleh keputusan sederhana yang dibuat dalam hitungan detik.

Kapolda NTT mengingatkan pentingnya penggunaan helm bagi pengendara sepeda motor maupun penumpang, termasuk anak-anak yang dibonceng orang tua mereka.

Helm bukan aksesori perjalanan. Bukan pula perlengkapan yang dikenakan hanya untuk menghindari teguran petugas. Fungsinya jauh lebih mendasar: membantu melindungi kepala dan mengurangi risiko cedera serius ketika kecelakaan terjadi.

Di balik imbauan itu terdapat tanggung jawab keluarga yang tidak boleh diabaikan. Orang tua bukan hanya bertugas mengantarkan anak sampai ke tempat tujuan, tetapi juga memastikan perjalanan berlangsung dengan perlindungan yang memadai.

Anak-anak belum sepenuhnya memahami bahaya di jalan raya. Karena itu, keselamatan mereka bergantung pada keputusan orang dewasa yang mendampingi. Memberikan contoh dengan mengenakan helm, memastikan helm anak sesuai ukuran, serta memasangnya dengan benar merupakan bagian dari pendidikan keselamatan yang dimulai dari rumah.

Kapolda NTT menegaskan pesan tersebut melalui Kabidhumas Polda NTT.

“Keselamatan harus menjadi prioritas setiap kali berada di jalan raya. Gunakan helm, baik bagi pengendara maupun penumpang, termasuk anak-anak. Helm dapat membantu mengurangi risiko cedera kepala apabila terjadi kecelakaan. Jangan mengabaikan keselamatan diri dan keluarga,” pesan Kapolda NTT melalui Kabidhumas.

Imbauan itu juga mencakup larangan mengendarai kendaraan setelah mengonsumsi minuman beralkohol, kepatuhan terhadap rambu-rambu lalu lintas, pengendalian kecepatan, dan kesadaran untuk mengutamakan keselamatan sepanjang perjalanan.

Sebab, kecelakaan tidak selalu bermula dari jalan yang buruk atau kendaraan yang bermasalah. Dalam banyak keadaan, perilaku manusia turut menentukan besar-kecilnya risiko yang dihadapi.

Disiplin berlalu lintas pada akhirnya bukan hanya persoalan mematuhi aturan negara. Ia juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap nyawa sendiri, keluarga yang menunggu di rumah, dan pengguna jalan lain yang tidak seharusnya menanggung akibat dari kelalaian seseorang.

Polisi yang hadir sebelum persoalan membesar

Jumat Keliling memperlihatkan satu pendekatan dalam pelayanan kepolisian: membangun komunikasi langsung dengan masyarakat melalui ruang-ruang sosial dan keagamaan.

Kehadiran Kapolda NTT bersama pejabat utama di tengah jemaah membuka kesempatan untuk menyampaikan pesan keamanan dalam suasana yang dekat dengan kehidupan warga. Masjid menjadi tempat ibadah sekaligus ruang penguatan kesadaran bersama mengenai pentingnya kerukunan, tanggung jawab sosial, dan keselamatan.

Dalam kegiatan tersebut, Kapolda NTT didampingi Irwasda Polda NTT, Karo Ops Polda NTT, Dirbinmas Polda NTT, Kabidhumas Polda NTT, serta Kabiddokkes Polda NTT.

Pendekatan humanis semacam ini memiliki arti ketika komunikasi tidak berhenti pada penyampaian imbauan, tetapi juga menjadi pintu bagi tumbuhnya kepercayaan dan kemitraan antara masyarakat dan kepolisian.

Keamanan yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran aparat. Ia membutuhkan warga yang bersedia menaati aturan, keluarga yang membangun kebiasaan aman, serta lingkungan yang tidak membiarkan kekerasan dianggap sebagai jalan keluar dari persoalan.

Karena itu, pesan yang dibawa dalam Jumat Keliling diarahkan pada tindakan konkret: menjaga hubungan baik dengan sesama, mengendalikan emosi, menghindari konsumsi alkohol yang berisiko, dan mematuhi aturan lalu lintas.

Keberhasilan pendekatan tersebut pada akhirnya tidak cukup diukur dari terlaksananya sebuah kegiatan. Ukuran yang lebih bermakna adalah sejauh mana pesan-pesan itu diterjemahkan menjadi perilaku sehari-hari dan membantu mencegah peristiwa yang membahayakan masyarakat.

Jumat Berkah, kepedulian yang menyertai pesan

Usai salat Jumat, Kapolda NTT melanjutkan kegiatan dengan membagikan makanan Jumat Berkah kepada para jemaah.

Pembagian makanan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat kebersamaan dan menunjukkan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Kehangatan sebuah perjumpaan terkadang hadir melalui tindakan sederhana, selama dilakukan dengan ketulusan dan disertai komitmen untuk menjaga hubungan baik.

Namun, makna kegiatan itu tidak berhenti pada makanan yang dibagikan. Ada harapan agar kedekatan yang terbangun dapat memperkuat komunikasi antara polisi dan warga, sehingga persoalan keamanan tidak selalu harus menunggu sampai menjadi perkara hukum untuk mendapatkan perhatian.

Polri diharapkan hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat—bukan hanya ketika pelanggaran terjadi, tetapi juga melalui upaya pencegahan, edukasi, serta kemitraan yang tumbuh bersama warga.

Polda NTT pun mendorong masyarakat untuk menerapkan pesan-pesan yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun di ruang publik.

Kegiatan Jumat Keliling dan Jumat Berkah di Masjid Nurussa’adah berlangsung aman, tertib, dan lancar.

Dari saf salat menuju keselamatan bersama

Pada akhirnya, pesan yang dibawa dari Masjid Nurussa’adah kembali kepada hal-hal mendasar yang menentukan kualitas hidup bermasyarakat: kemampuan menahan amarah, keberanian menghindari tindakan berbahaya, dan kedisiplinan melindungi keselamatan diri serta orang lain.

Sebuah helm mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi bagian penting dari perlindungan seorang anak. Keputusan untuk tidak mengemudi setelah mengonsumsi alkohol mungkin hanya berlangsung sesaat, tetapi dapat mencegah kecelakaan. Kesediaan menyelesaikan perselisihan tanpa kekerasan mungkin tidak menjadi berita, tetapi dapat menyelamatkan sebuah keluarga dari penderitaan panjang.

Di situlah pesan Jumat Keliling menemukan maknanya. Bukan hanya tentang polisi yang datang ke masjid, melainkan tentang bagaimana pesan keselamatan dibawa pulang, masuk ke dalam keluarga, dan tumbuh menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.

Sebab, keamanan yang paling berharga bukan semata-mata ketika suatu wilayah dinyatakan kondusif. Keamanan menjadi nyata ketika warga dapat menjalankan aktivitas tanpa rasa takut, anak-anak terlindungi dalam perjalanan, dan setiap orang mampu pulang ke rumah dengan selamat.

Polri Bersama Masyarakat bukan sekadar semboyan. Ia menuntut kerja bersama, kesadaran bersama, dan tanggung jawab yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

 

Penulis: Redaksi buserkota.com/humaspolresBeluEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *