ALOR | BUSERKOTA.COM — Pagi di Kabupaten Alor,Nusa Tenggara Timur selalu datang dengan angin yang lembut dari laut, menyentuh rumah-rumah sederhana dan menyalakan harapan baru di beranda-beranda kayu.
Di tengah semilir itu, suara ajakan damai kembali menggema. Bukan dengan nada tinggi, melainkan dengan kesejukan yang merangkul.
Ketua , Muhammad Bere, berdiri di simpang waktu yang istimewa. Tahun 2026 mempertemukan tiga momentum suci dalam jarak yang nyaris berdekatan: Imlek, Bulan Suci Ramadhan, dan Pra Paskah (Rabu Abu). Tiga cahaya iman, tiga jalan pengabdian, satu tujuan: kedamaian.
“Ada Imlek, Bulan Suci Ramadhan serta Pra Paskah (Rabu Abu). Untuk itu mari kita saling mendukung agar dalam pelaksanaan hari besar ini bisa berjalan dengan aman, damai dan tertib,” ujarnya, Senin pagi (16/2/2026), dengan nada yang teduh namun tegas.
Toleransi yang Dihidupkan, Bukan Sekadar Diucapkan
Di Alor, toleransi bukan sekadar slogan. Ia adalah napas yang diwariskan leluhur, hidup dalam ungkapan adat yang sarat makna: ite kakang aring, tara miti tomi nuku, tenangeli mulenoa — kita bersaudara, tak boleh saling melukai, harus saling menjaga.
Muhammad Bere menyebut momentum ini sebagai ujian sekaligus peluang. Ujian, karena perbedaan selalu menyisakan ruang rawan. Peluang, karena dari perbedaan itulah persaudaraan diuji dan dikuatkan.
╔══════════════════════════════════════╗
“Marilah kita jaga keamanan di Alor dalam bingkai ite kakang aring,
tara miti tomi nuku, tenangeli mulenoa yang telah diwariskan leluhur.”
╚══════════════════════════════════════╝
Kalimat itu meluncur bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai ikrar kolektif. Bahwa damai bukan tugas aparat semata, tetapi tanggung jawab bersama: tokoh agama, tokoh adat, pemuda, hingga warga di lorong-lorong kampung.
Menguatkan Ibadah, Menyatukan Kembali Hati
Di tengah dinamika sosial yang kerap memunculkan jarak, Bere mengajak masyarakat menjadikan hari-hari besar keagamaan sebagai ruang rekonsiliasi sosial. Ia melihat ada relasi yang perlu dirajut kembali, ada kehangatan yang perlu dipanggil pulang.
“Gunakan momentum yang baik ini agar daerah kita utuh, bersatu kembali dan tidak bercerai-berai. Ini menjadi tugas kita bersama seluruh unsur masyarakat Kabupaten Alor.”
Seruan itu tidak berhenti pada kata-kata. Ia menjelma menjadi ajakan konkret: menghidupkan kembali gotong royong, menjaga stabilitas lingkungan, dan bersama-sama melawan penyakit sosial — termasuk peredaran minuman keras yang dinilai belum sepenuhnya terkendali.
Bagi Bere, kualitas ibadah tidak hanya diukur dari panjangnya doa, tetapi dari luasnya kepedulian sosial. Dari kemampuan menahan diri, menahan amarah, menahan jari agar tak sembarang membagikan informasi yang belum tentu benar.
Damai di Dunia Nyata, Damai di Ruang Digital
Di era ketika kabar dapat melesat lebih cepat dari klarifikasi, ia mengingatkan pentingnya kebijaksanaan bermedia sosial. Provokasi, kabar tak terverifikasi, dan narasi kebencian bisa menjadi bara kecil yang membesar tanpa kendali.
“Salah satu hal yang perlu dijaga dan diwaspadai adalah bijak dalam bermedia sosial. Tidak boleh menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya sehingga tidak memicu kesalahpahaman antar kelompok masyarakat.”
Jurnalisme damai mengajarkan: konflik bukan untuk dipertontonkan, tetapi untuk diselesaikan. Dan masyarakat, kata Bere, punya peran penting dalam memutus rantai provokasi sebelum ia menjadi api.
Tawuran Bukan Jalan Keluar
Menanggapi fenomena tawuran antar pemuda yang sempat mencoreng wajah Alor, Bere berbicara dengan nada prihatin. Baginya, kekerasan hanya menyisakan luka — fisik, psikis, bahkan reputasi daerah.
“Akan terjadi banyak kerusakan di lingkungan, cedera bahkan bisa menyebabkan kematian, reputasi daerah menjadi buruk serta memperparah pengaruh buruk pada anak dan remaja yang terlibat. Tawuran tidak menyelesaikan masalah, malah bisa memperburuk situasi. Mari duduk bersama mencari solusi damai dan konstruktif untuk menyelesaikan konflik.”
Di situlah letak keberanian sejati: bukan pada kepalan tangan, melainkan pada kesediaan duduk bersama, membuka ruang dialog, dan mencari solusi yang bermartabat.
Tanggung Jawab Bersama, Alor yang Lebih Baik
Di akhir pernyataannya, Ketua MUI Alor Muhammad Bere menegaskan dukungan kepada aparat keamanan yang selama ini menjaga stabilitas wilayah. Namun ia mengingatkan, keamanan bukan produk tunggal institusi, melainkan hasil kolaborasi.
╔══════════════════════════════════════╗
“Ini juga menjadi tanggung jawab seluruh tokoh agama, tokoh adat,
tokoh pemuda, tokoh masyarakat. Mari kita saling bergandengan tangan
untuk Alor yang lebih baik.”
╚══════════════════════════════════════╝
Di Alor, laut dan gunung berdiri dalam harmoni. Ombak tak pernah bertanya pada batu tentang keyakinannya, dan matahari tak memilih atap mana yang akan ia sinari.
Mungkin di situlah pesan terdalam dari momentum 2026 ini: bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan anugerah. Dan damai bukan sekadar cita-cita — ia harus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan bersama.














