Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
AgamaBerita UtamaPeristiwa

Di Ambang Altar dan Air Mata Ibu: 30 Frater Ditahbiskan, Remigildus Lake Menapaki Jalan Sunyi Seorang Diakon

174
×

Di Ambang Altar dan Air Mata Ibu: 30 Frater Ditahbiskan, Remigildus Lake Menapaki Jalan Sunyi Seorang Diakon

Sebarkan artikel ini

KUPANG |BUSERKOTA Com-Kota Kupang seolah menahan napas pada Sabtu pagi, 30 Mei 2026. Di Kapela Seminari Tinggi Santo Mikael Penfui, denting doa dan nyanyian liturgi mengalun lembut, menyatu dengan langkah-langkah para frater yang hari itu tidak lagi sekadar berjalan sebagai seminaris, tetapi melangkah menuju gerbang pelayanan Gereja sebagai diakon.

Sebanyak 30 frater menerima tahbisan diakon dalam perayaan suci yang dipimpin Yang Mulia . Di hadapan altar, keluarga, para imam, biarawan-biarawati, dan umat yang memadati kapela, satu per satu nama dipanggil—dan dari balik jubah putih sederhana itu, lahirlah kisah panjang tentang panggilan, pengorbanan, dan iman yang tidak pernah menyerah.

Salah satu yang menapaki hari bersejarah itu adalah Diakon Remigildus Lake.

Ia berdiri tenang di antara rekan-rekannya. Wajahnya tampak teduh, namun matanya menyimpan perjalanan panjang seorang anak manusia yang telah melewati disiplin seminari, kesunyian doa, pergulatan batin, kerinduan pada keluarga, hingga keteguhan untuk tetap menjawab panggilan Tuhan.

Di dalam kapela, suasana menjadi hening ketika para frater merebahkan diri di lantai altar dalam ritus Litani Para Kudus. Hanya suara doa yang terdengar, seakan seluruh langit sedang menyaksikan penyerahan total hidup mereka.

╔════════════════════════════╗
“Tahbisan bukan akhir perjalanan,
melainkan awal dari penyerahan diri
yang lebih dalam kepada Tuhan
dan pelayanan bagi sesama.”
╚════════════════════════════╝

Momentum tahbisan diakon bukan sekadar seremoni gerejawi. Ia adalah simbol lahirnya para pelayan altar yang dipanggil untuk hidup dalam ketaatan, kerendahan hati, dan pengabdian kepada umat. Dalam tradisi Gereja Katolik, diakon menjadi jembatan pelayanan—membawa sabda, membantu liturgi, dan hadir di tengah penderitaan manusia.

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh ambisi dan materialisme, keputusan 30 frater ini menjadi penanda bahwa panggilan iman tetap hidup. Bahwa masih ada anak-anak muda yang memilih jalan sunyi pelayanan dibanding gemerlap dunia luar. Tahbisan ini sekaligus menjadi refleksi penting bagi Gereja di Nusa Tenggara Timur yang terus melahirkan banyak pelayan altar dari rahim keluarga-keluarga sederhana namun kaya iman.

╔════════════════════════════╗
“Menjadi diakon berarti bersedia
dipatahkan seperti roti
demi kehidupan banyak orang.”
╚════════════════════════════╝

Perayaan tahbisan itu akhirnya ditutup dengan sukacita, pelukan keluarga, dan air mata haru yang tidak bisa disembunyikan. Kamera-kamera mengabadikan senyum para diakon baru, tetapi yang tak tertangkap lensa adalah kisah panjang doa para ibu, kerja keras ayah, dan malam-malam sunyi yang telah mengantar mereka sampai ke altar Tuhan.

Dan pada hari itu, di Seminari Tinggi Santo Mikael Penfui, langit Kupang seakan kembali mengingatkan: panggilan sejati selalu lahir dari keberanian untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada cinta yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *