MAPPI |BUSERKOTA.Com —
Di tengah hiruk-pikuk Pasar Baru Kepi, ketika tawar-menawar bercampur deru sepeda motor dan langkah-langkah cepat pembeli, hadir suara lain yang tak kalah penting: suara peringatan, ajakan, dan harapan. Selasa (10/2/2026), Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polres Mappi menyusup ke denyut kehidupan warga—bukan dengan sirene, melainkan dengan kata-kata yang menyentuh kesadaran.
Pasar, yang selama ini menjadi pusat ekonomi rakyat, juga menyimpan potensi kerawanan. Dari kecelakaan lalu lintas hingga bayang-bayang miras yang kerap memicu kekerasan. Di ruang inilah Polri memilih hadir lebih dekat—mencegah sebelum luka, menasihati sebelum penyesalan.
Fokus pertama diarahkan pada tertib berlalu lintas. Di hadapan para pedagang dan pengendara, personel Sat Binmas mengingatkan bahwa helm bukan sekadar pelindung kepala, melainkan penjaga masa depan keluarga. Surat-surat kendaraan bukan formalitas, dan parkir sembarangan di area pasar bukan sekadar pelanggaran kecil, melainkan pemicu kemacetan dan kecelakaan.
Namun pesan paling tegas disampaikan ketika pembahasan beralih ke bahaya minuman keras (miras). Polisi menekankan bahwa alkohol kerap menjadi awal dari berbagai tragedi—penganiayaan, pemerasan, hingga kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa dan menghancurkan rumah tangga.
▌ “Miras bukan hanya merusak kesehatan, tetapi juga melumpuhkan akal sehat. Banyak tindak kriminal berawal dari satu tegukan yang dianggap sepele,”
▌ — Iptu Naftali Rupaidus, Kasat Binmas Polres Mappi
Dalam dialog yang cair dan membumi, Iptu Naftali mengajak warga untuk menjadi “polisi bagi diri sendiri”—menjaga barang bawaan, meningkatkan kewaspadaan, dan berani melapor jika melihat indikasi premanisme atau tindak kejahatan di area pasar. Edukasi ini menjadi penting, sebab pasar adalah ruang publik dengan dinamika tinggi dan kerap menjadi sasaran empuk pelaku kriminal.
Pendekatan yang humanis ini membuahkan respons positif. Para pedagang mengangguk, pengunjung menyimak, dan sebagian bahkan berdiskusi langsung dengan petugas. Kehadiran polisi tidak lagi dipandang sebagai penegak hukum semata, melainkan mitra yang peduli pada keselamatan dan kualitas hidup masyarakat.
▌ “Kalau jalan tertib dan miras dijauhi, kami berdagang juga lebih tenang. Polisi datang begini bikin kami merasa dilindungi,”
▌ — Seorang pedagang Pasar Baru Kepi
Sebagai solusi berkelanjutan, Polres Mappi menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembinaan dan penyuluhan (Binluh) secara berkala di titik-titik rawan. Pencegahan menjadi kata kunci—mengedukasi masyarakat agar tidak terjerumus pada risiko yang sebenarnya bisa dihindari.
Kegiatan ditutup dengan imbauan agar masyarakat segera melaporkan setiap potensi gangguan keamanan melalui layanan pengaduan resmi Polri. Pesannya sederhana namun kuat: keamanan bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab bersama.
Di Pasar Baru Kepi hari itu, Polri tidak sekadar menyampaikan aturan. Mereka menanam kesadaran. Dan dari kesadaran itulah, harapan akan Mappi yang lebih aman, tertib, dan manusiawi perlahan tumbuh.














