Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalInfo PublikInternasionalPemerintahanPeristiwaPolitikTeknologi

Ibu yang Tak Pulang: Jenazah TKI Asal Malaka Tertahan di Malaysia, Keluarga Menanti dengan Duka dan Harap

153
×

Ibu yang Tak Pulang: Jenazah TKI Asal Malaka Tertahan di Malaysia, Keluarga Menanti dengan Duka dan Harap

Sebarkan artikel ini

JAKARTA | BUSERKOTA.Com — Senja di perantauan itu datang terlalu cepat. Di tanah asing yang jauh dari kampung halaman, seorang ibu asal Desa Lawalu, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, mengembuskan napas terakhirnya. Ia adalah Maria Magdalena Abuk (45), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang selama ini bekerja diam-diam menanggung harapan keluarga. Namun kini, bahkan untuk kembali ke tanah kelahirannya pun, ia masih tertahan.

Kabar duka itu tiba seperti petir di siang bolong bagi keluarga. Maria Magdalena Abuk dikabarkan meninggal dunia di Malaysia Timur pada Selasa, 14 April 2026, sekitar pukul 17.20 Wita. Informasi tersebut disampaikan oleh anak kandung almarhumah, Falianus Bria Klau, saat diwawancarai tim media ini, Kamis (16/4/2026).

Di balik kabar kehilangan itu, tersimpan luka yang belum selesai: jenazah sang ibu belum bisa dipulangkan.

Falianus, dengan suara yang bergetar menahan duka, mengungkapkan bahwa hingga saat ini keluarga masih terkendala biaya untuk proses pemulangan jenazah dari Malaysia ke Kabupaten Malaka.

╔══════════════════════════════════════╗
║ “Sejak meninggal hingga kini, mama belum bisa ║
║ dipulangkan ke Malaka. Kami masih terbentur ║
║ biaya pengiriman jenazah.” ║
║ ║
║ — Falianus Bria Klau ║
╚══════════════════════════════════════╝

Cerita hidup Maria Magdalena Abuk adalah potret sunyi perjuangan banyak ibu di perbatasan negeri. Sejak berpisah dengan suaminya pada tahun 2022, ia memilih merantau ke Malaysia demi menyambung hidup dan membantu ekonomi keluarga. Di negeri jiran itu, ia bekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit, menjalani rutinitas harian memilah biji kelapa sawit—pekerjaan yang mungkin sederhana, namun sarat pengorbanan.

Namun kini, perjuangan itu seolah terhenti di batas yang tak kasat mata—antara hidup dan kematian, antara negeri orang dan tanah kelahiran.

Jenazah almarhumah hingga kini masih berada di Malaysia Timur dan dijaga oleh kerabat dekat keluarga, Marianus Nahak. Sementara itu, di tanah air, Falianus yang masih berstatus mahasiswa di Universitas Timor hanya bisa berjuang dari kejauhan, mengetuk pintu harapan demi satu hal: memulangkan ibunya.

╔══════════════════════════════════════╗
║ “Kami terus berusaha, membuka komunikasi ║
║ dengan berbagai pihak. Kami berharap ada ║
║ jalan agar mama bisa pulang.” ║
║ ║
║ — Falianus Bria Klau ║
╚══════════════════════════════════════╝

Di tengah keterbatasan, keluarga terus bergerak, mencari jalan keluar, berharap ada tangan-tangan yang terulur. Mereka percaya bahwa negara dan pihak terkait tidak akan tinggal diam melihat warganya tertahan dalam duka di negeri orang.

Secara kontekstual, peristiwa ini kembali menyingkap realitas pahit yang kerap dihadapi pekerja migran Indonesia. Di balik kontribusi mereka terhadap ekonomi keluarga dan negara, masih terdapat celah dalam sistem perlindungan, terutama saat menghadapi situasi darurat seperti kematian di luar negeri. Biaya pemulangan jenazah yang tinggi kerap menjadi beban berat bagi keluarga di daerah perbatasan dengan keterbatasan ekonomi.

Kini, harapan keluarga sederhana namun penuh makna: agar Maria Magdalena Abuk dapat pulang, bukan lagi sebagai pencari nafkah, tetapi sebagai ibu yang kembali ke tanahnya untuk beristirahat dengan layak.

Dan di antara doa-doa yang dipanjatkan, tersisa satu kerinduan yang paling sunyi—seorang anak yang ingin menyambut kepulangan ibunya, bukan dalam pelukan hangat, melainkan dalam keheningan tanah kelahiran yang terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *