Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaPeristiwa

Lol Ton, Tradisi Adat Warga Tunbaba Sambut Pergantian Tahun

265
×

Lol Ton, Tradisi Adat Warga Tunbaba Sambut Pergantian Tahun

Sebarkan artikel ini

KEFAMENANU [BUSERKOTA.Com)-
Lol Ton, tradisi adat dari wilayah
Tunbaba, Kecamatan Miomaffo Timur Kabupaten Timor Tengah Utara , Nusa Tenggara Timur yang dilakukan untuk menyambut pergantian tahun. Tradisi adat dengan beragam ritual, terus dipelihara dan dilestarikan dari waktu ke waktu hingga kini. Acara lni lasim disebut dengan Tahun Baru Adat.

Menariknya, pada tanggal yang telah disepakati pada awal Januari oleh masing-masing suku berkumpul dengan secara bergilir membawa ternak kurban berupa babi (5 -10 ekor atau lebih) untuk masing masing suku/ marga.

Ternak tersebut dipersembahkan bagi leluhur atas segala berkat yang dilimpahkan bagi suku tersebut sepanjang satu tahun berjalan. Pada ritual adat tersebut juga memohon agar kiranya melalui perantara para leluhur, Tuhan (Apinat Aklat: dawan) senantiasa memberkati suku tersebut dan dihindarkan dari berbagai bencana dan malapetaka.

Disaksikan media ini, Jumat (3/1/2025) Lol Ton di Desa Bitefa, Kecamatan Miomaffo Timur, terdapat 10 suku/marga (Mone Ha-Feto Ne/bahasa Dawan : 4 suku laki dan 6 suku prempuan) dengan masing- masing suku bermarkas di rumah adat masing masing suku tersebut.

Awalnya, mereka mempersembahkan ternak -ternak yang dibawa kepada leluhurnya dengan menyampaikan sejumlah permohonan kepada para leluhur. Usai penyampaian ritual tersebut, kemudian ternak tersebut disembeli dan dagingnya pun diserahkan ke suku. Kemudian, sebagian daging untuk makan bersama dan yang lainnya dibagikan kepada semua warga suku baik yang ada di kampung maupun di luar.

Sehari sebelumnya, masing- masing suku pergi ke air pemali dan batu pemali dan dilakukan ritual serupa yakni memohon berkat dan doa para leluhur bagi anak cucu.

Uniknya, pada acara makan bersama harus diawali dengan perjamuan makan bersama 10 suku di rumah adat Ume Tola (suku Naihati) yang mana pada perjamuan tersebut telah hadir perwakilan/ kepala suku dari 10 suku di kampung tersebut.

Lebih unik lagi. Dari perjamuan bersama tersebut diawali dengan penyampaian ritual adat, setelah itu satu dua kata dari ketua lembaga adat dan pengarahan singkat dari kepala desa baru boleh dilakukan makan bersama.

Usai perjamuan makan bersama tersebut, selanjutnya masing masing suku baru boleh dilakukan makan bersama pada setiap suku yang ada di kampung itu.

Ketua Lembaga Adat, Anton Naihati yang ditemui di kedimannya menjelaskan, acara Lol Ton ini sudah dilakukan dari waktu ke waktu. Tradisi ini sudah dipelihara sejak dulu kala, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur atas segala berkat yang diberikan sepanjang 1 tahun berjalan.

“Khusus di Desa Bitefa, Desa Bokon dan di Desa Kaenbaun, Lol Ton dapat dilakukan setiap tanggal 3 Januari. Sedangkan di Desa Fatusene pada tanggal 4 Januari dan Amol. Sedangkan untuk Desa Taekas dan Femnasi dilakukan pada tanggal 5 Januari,” ungkap Antonius.

Dijelaskan, perjamuan bersama ini dilakukan untuk menjaga keutuhan 10 suku; Mone Ha-Feto Ne (4 laki-laki-6 perempuan) sudah terjalin secara turun-temurun hingga saat ini. “Inilah tradisi yang perlu dipelihara dan terus diwariskan kepada anak-cucu,” ungkap Anton.

Sementara Kepala Desa Bitefa, Wilson Naihati mengatakan, perjamuan makan bersama selain untuk menjalin persaudaraan juga meningkatkan kepekaan terhadap masalah masalah sosial dan politik yang terjadi di desa maupun kabupaten ini.

“Dalam perjamuan bersama ini ikut membahas berbagai persoalan yang dialami secara bersama – sama baik masalah sosial maupun masalah politik dan juga membahas berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah desa, ” ungkap kades Wilson.

Hal serupa diungkapkan tokoh adat dari marga Kolo. Servas Kolo yang ditemui di sela- sela perjamuan bersama, membenarkan apa yang disampaikan kepala desa Bitefa tersebut. Bahkan baginya, tidak cukup membahas masalah sosial tetapi juga membahas kadernisasi di berbagai bidang baik dunia pemerintah maupun swasta, khususnya di dunia politik, terutama pasca meninggalnya alm. Hengky Sakunab (mantan bupati Timor Tengah Utara). Dengan kepergian alm. Hengky Sakunab, benar-benar

kehilangan sosok pemimpin TTU yang cukup mengayomi masyarakat TTU.

“Dengan kepergian Almarmum Pak Hengky, dari kampung Bitefa ini belum melahirkan kader sekelas beliau, yang namanya terus dikenang oleh seluruh lapisan masyarakat TTU. Semoga ke depan ada kader- kader pengganti. Inilah yang terus menjadi pergumulan yang panjang hingga saat ini, ” ungkap Servas.

Sementara kades Fasutene, Lenardus Salu yang ditemui ditemui di marga Kenjam, membenarkan perstiwa Lol Ton dari suku ke suku yang terjadi dari suku yang lainnya. Bahkan dia mengkui hal ini pun dia mengakui hal terjadi dari waktu ke waktu di Tunbaba.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *