Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaInfo PublikPemerintahanPeristiwaSosial

Menunggu Langit Pecah di Taaba

64
×

Menunggu Langit Pecah di Taaba

Sebarkan artikel ini

Di Desa yang Bersyukur Saat Hujan Datang

MALAKA |BUSERKOTA.Com— Di Desa Taaba, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, hujan bukan sekadar musim. Ia adalah kabar baik. Ia adalah harapan yang turun dari langit.

Saat awan menggumpal dan rintik pertama jatuh ke tanah yang lama kering, warga tidak berlari menghindar. Mereka justru menengadah. Menyambut.

Di desa ini, air bukan perkara sepele. Ia adalah perjuangan harian.

Kepala Desa Taaba, Ida Nahak, tak menutupi kenyataan itu ketika dihubungi Buserkota.com, Rabu (11/02/2026). Suaranya terdengar jujur, tanpa hiasan.

“Kami susah air. Kami senang kalau hujan karena air melimpah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi memuat cerita panjang tentang kekurangan yang dijalani bertahun-tahun.

Ketika Hujan Mengisi Harapan

Di Taaba, setiap rumah memiliki penampung air. Bak-bak besar berdiri di samping rumah, sebagian dari bantuan desa, sebagian lagi dibeli dengan tabungan keluarga.

Dan ketika hujan turun deras seperti beberapa hari terakhir, wajah-wajah warga berubah cerah.

“Hujan begini, penampung kami full,” ujar Ida Nahak.

Air yang memenuhi bak penampung bukan hanya soal kebutuhan minum dan memasak. Ia berarti tak perlu membeli air tangki untuk sementara waktu. Ia berarti pengeluaran bisa ditekan. Ia berarti napas sedikit lebih lega.

Karena selama ini, untuk bertahan di musim kering, warga harus membeli air.

“Karena kami beli air tangki,” ungkapnya lugas.

Air tangki datang, disalurkan, lalu cepat habis. Begitulah siklus yang berulang setiap kemarau.

Investasi yang Ditampung di Bak Air

Pemerintah Desa Taaba tak tinggal diam. Ida Nahak menjelaskan bahwa pengadaan sarana penampung air menjadi prioritas sejak 2024 dan akan terus dilanjutkan hingga 2026.

“Sudah pemdes pengadaan dari tahun 2024, 2025 dan 2026 ini pasti selesai. Semua warga Taaba ada fiber (penampung air),” jelasnya.

Program itu bukan proyek besar yang terlihat megah. Ia tak berupa gedung tinggi atau jalan beton panjang. Tetapi di Taaba, satu penampung air bisa berarti keberlangsungan hidup satu keluarga.

Di halaman-halaman rumah, bak penampung berdiri seperti simbol ketahanan. Menunggu hujan. Menyimpan harapan.

Desa yang Bersyukur pada Langit

Di kota, hujan sering dianggap pengganggu aktivitas. Jalan macet. Pakaian tak kering. Rencana berubah.

Namun di Taaba, hujan adalah berkah yang dirayakan dalam diam.

Anak-anak mungkin berlari kecil di bawah rintik. Para ibu memeriksa saluran talang agar air mengalir lancar ke penampung. Para ayah memastikan tak ada kebocoran.

Setiap tetes dihitung. Setiap liter berarti.

Kisah Taaba adalah potret banyak desa yang masih bergantung pada kemurahan langit. Di tengah keterbatasan infrastruktur air bersih, warga belajar bertahan—dengan membeli air tangki saat kemarau dan menampung sebanyak mungkin saat hujan tiba.

Dan di antara suara hujan yang jatuh di atap seng, ada doa-doa yang tak terucap keras: semoga bak tetap penuh, semoga musim kering tak terlalu panjang.

Karena di Taaba, air bukan sekadar kebutuhan.
Ia adalah rasa syukur yang turun dari langit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *