Oleh: Arief Ibrahim
(Anggota DPRD & Ketua Fraksi HANURA DPRD Morowali Utara, Ketua KADIN Morowali Utara)
Artikel ini menelaah paradoks ekonomi di Morowali Utara, di mana kemegahan angka pertumbuhan harus diselaraskan dengan pemerataan kesejahteraan melalui penguatan tata kelola dan nurani pembangunan; solusinya bukan membatasi kemajuan, melainkan menenun kembali distribusi hasil industri agar lebih manusiawi.
Antara Geliat Industri dan Sunyinya Kesejahteraan
Di bawah langit Morowali Utara, mesin-mesin industri menderu tanpa henti, memahat angka pertumbuhan ekonomi yang melambung hingga 23,94 persen—sebuah pencapaian yang semestinya menjadi balada kemenangan. Namun, di balik orkestra kemajuan tersebut, terselip sebuah elegi tentang “Pertumbuhan Memiskinkan” (*Immiserizing Growth*). Kita menyaksikan sebuah paradoks yang getir: saat pundi-pundi daerah membesar, sebagian rakyat justru merasa kian terasing di tanahnya sendiri. Tulisan ini bukan sekadar kritik, melainkan sebuah alarm intelektual yang mengingatkan bahwa pertumbuhan tanpa pemerataan hanyalah fatamorgana pembangunan yang megah namun hampa.
Ibarat sebuah pohon besar yang tumbuh menjulang namun akarnya tak menyentuh air, industrialisasi nikel telah membawa transformasi struktural dari agraris ke industri bernilai tinggi, tetapi belum sepenuhnya menyentuh urat nadi kehidupan masyarakat lokal. Masalahnya bukanlah pada pertumbuhan itu sendiri, melainkan pada “tata kelola” yang kehilangan nuraninya. Instrumen seperti CSR dan PPM masih bergerak seperti debu yang tertiup angin—sporadis, tidak terarah, dan gagal menjawab kerinduan masyarakat akan perubahan nasib yang fundamental.
Menanam Harapan di Atas Fondasi Perbaikan
Kita tidak boleh menutup mata bahwa raksasa industri ini adalah tumpuan masa depan fiskal daerah. Namun, pembangunan yang sejati tidak boleh membiarkan kelestarian lingkungan dan harmoni sosial layu di tepi jalan. Kita membutuhkan sebuah “Jalan Tengah” yang puitis namun pragmatis:
– Melembagakan Berkah: Mengintegrasikan seluruh kontribusi perusahaan ke dalam satu sistem regulasi yang transparan, agar setiap tetes keringat industri benar-benar mengalir ke ladang-ladang harapan warga.
-Mendulang Peran Lokal:Rakyat Morowali Utara tidak boleh hanya menjadi penonton di teater kemajuan mereka sendiri. Mereka harus menjadi bagian dari rantai nilai, bukan sekadar pelengkap di pinggiran.
-Melindungi yang Rentan: Menciptakan jaring perlindungan sosial yang adaptif sebagai peluk bagi mereka yang terhimpit oleh konflik lahan maupun kerentanan ekonomi.
Pada akhirnya, Morowali Utara tidak butuh penghentian langkah, melainkan koreksi arah. Kita harus memperbaiki cara kita membagi hasil bumi ini, agar pertumbuhan ekonomi bukan lagi sebuah mitos yang dingin, melainkan sebuah pelukan hangat yang dirasakan oleh setiap jiwa di Bumi Tepo Asa Aroa. Karena sejatinya, keberhasilan pembangunan tidak diukur dari tingginya angka di atas kertas, melainkan dari senyum yang merekah di wajah rakyat jelata.














