Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalInfo Publik

Nama Kapolres Dicatut untuk Minta Dana Buka Puasa, Enam Kepala Kampung di Jayapura Nyaris Jadi Korban

147
×

Nama Kapolres Dicatut untuk Minta Dana Buka Puasa, Enam Kepala Kampung di Jayapura Nyaris Jadi Korban

Sebarkan artikel ini

Nama Kapolres Dicatut untuk JAYAPURA | BUSERKOTA.COM — Sebuah pesan berantai yang beredar diam-diam melalui telepon genggam hampir menyeret enam kepala kampung di Kabupaten Jayapura ke dalam jebakan penipuan. Nama yang dicatut bukan nama sembarangan: Kapolres Jayapura, AKBP Dionisius Paron Helan.

Pesan tersebut berisi permintaan bantuan dana untuk kegiatan buka puasa Kapolres Jayapura. Agar terlihat meyakinkan, pelaku bahkan menyertakan nomor rekening sebagai tujuan transfer dana.

Namun sebelum uang berpindah tangan, kabar tersebut sampai kepada sang Kapolres.

Dari Sentani, Sabtu (7/3/2026), AKBP Dionisius Paron Helan dengan tegas meluruskan kabar tersebut. Ia memastikan bahwa pesan yang beredar itu adalah hoaks dan tidak pernah berasal dari dirinya maupun dari institusi Polres Jayapura.

╔════════════════════════════════╗
“Kami Polres Jayapura tidak pernah meminta dana sepeser pun, apalagi membawa nama saya sebagai Kapolres Jayapura. Itu adalah fitnah dan hoaks.”
╚════════════════════════════════╝

Kapolres menegaskan dirinya tidak pernah meminta bantuan dana kepada siapa pun, termasuk kepada para kepala kampung di wilayah Kabupaten Jayapura.

Perwira yang pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Mimika dan Kabag Ops Polres Mimika itu juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap pesan yang mencatut namanya.

╔════════════════════════════════╗
“Untuk masyarakat yang menerima informasi itu, tolong tidak ditanggapi permintaan yang mengatasnamakan Kapolres Jayapura, apalagi permintaan dana untuk ditransfer. Saya pastikan itu informasi tidak benar dan hoaks.”
╚════════════════════════════════╝

Ia juga meminta masyarakat untuk segera melapor apabila menerima pesan serupa.

╔════════════════════════════════╗
“Jika ada yang menerima informasi permintaan dana seperti itu, segera laporkan melalui call center 110 dan anggota kami akan menindaklanjuti. Sekali lagi saya pastikan bahwa saya tidak pernah meminta bantuan dana kepada kepala kampung.”
╚════════════════════════════════╝

Saat ini, Polres Jayapura sedang melakukan penelusuran untuk melacak pelaku penyebar pesan tersebut.

Kapolres menegaskan bahwa pihaknya akan menempuh langkah hukum apabila pelaku berhasil diidentifikasi.

╔════════════════════════════════╗
“Anggota kita sementara menyelidiki pelaku penyebar pesan berantai itu. Kita akan lakukan langkah hukum jika kita dapat pelaku.”
╚════════════════════════════════╝

Secara kontekstual, modus pencatutan nama pejabat publik untuk meminta uang bukanlah fenomena baru. Dalam beberapa tahun terakhir, kejahatan digital jenis ini semakin sering terjadi karena memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap figur otoritas. Pesan singkat yang terlihat resmi kerap membuat penerima lengah dan terburu-buru menuruti permintaan tanpa melakukan verifikasi.

Peristiwa ini menjadi peringatan penting bahwa di era komunikasi digital yang serba cepat, kepercayaan harus selalu disertai kehati-hatian.

Sebab satu pesan singkat bisa saja terlihat seperti kabar resmi—namun di baliknya bisa tersembunyi niat yang sama sekali tidak jujur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *