Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalInfo PublikPeristiwa

Pasar Paniai Terbakar, Sebelas Nyawa Tak Diselamatkan

55
×

Pasar Paniai Terbakar, Sebelas Nyawa Tak Diselamatkan

Sebarkan artikel ini

PANIAI |BUSERKOTA.Com — Api datang ketika malam sedang paling sunyi. Di Kampung Bapouda, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, kawasan pasar yang sehari-hari menjadi tempat orang mencari penghidupan berubah menjadi kepungan bara pada Senin dini hari, 7 September 2026.

Sekitar pukul 00.25 WIT, kobaran api mulai melahap bangunan-bangunan yang berdiri saling berhimpitan. Dalam waktu sekitar tiga jam, sedikitnya 40 rumah kios hangus terbakar. Api baru berhasil dikendalikan sekitar pukul 03.30 WIT setelah aparat mengerahkan satu unit kendaraan taktis Water Canon.

Tetapi bagi sebelas orang, pagi tidak pernah datang.

Petugas menemukan mereka setelah api padam. Seluruh korban meninggal dunia dengan luka bakar. Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD Paniai.

Lima korban merupakan orang dewasa: Na, 70 tahun; Wa, 36 tahun; Ha, 30 tahun; RF, 28 tahun; dan He, 30 tahun.

Enam lainnya masih anak-anak: As, 9 tahun; Ab, 6 tahun; Ad, 5 tahun; Ar, 9 tahun; Ic, 6 tahun; dan AY, 2 tahun.

Enam anak dalam daftar korban itu membuat kebakaran Bapouda tidak cukup dikenang sebagai musibah. Ia menjadi kehilangan yang menuntut jawaban.

Ketika Api Menjadi Terlambat

Kasubbid Penmas Humas Polda Papua Tengah Komisaris Polisi Henry J. Manurung membenarkan peristiwa tersebut.

Henry mengatakan, bangunan yang saling berhimpitan membuat api cepat menjalar dan proses pemadaman berlangsung cukup lama.

Keterangan itu menjelaskan bagaimana api berkembang. Namun, belum menjawab seluruh pertanyaan tentang mengapa dampaknya begitu besar.

Mengapa sebuah kebakaran di kawasan pasar dapat berubah menjadi tragedi yang menewaskan 11 orang?

Polisi masih menyelidiki sumber dan penyebab kebakaran. Hingga kini, belum ada kesimpulan mengenai bagaimana api bermula.

Di lokasi yang bangunannya berdiri rapat, setiap menit memiliki arti. Api yang tidak segera dikendalikan dapat berpindah dari satu bangunan ke bangunan lainnya. Dalam keadaan seperti itu, keselamatan warga tidak hanya bergantung pada keberadaan petugas pemadam, tetapi juga pada kondisi kawasan dan kesiapan menghadapi keadaan darurat.

Pertanyaan yang Tidak Boleh Padam

Penyelidikan kepolisian perlu menjawab sumber dan penyebab kebakaran. Namun, evaluasi terhadap tragedi ini juga semestinya melihat persoalan keselamatan yang lebih luas.

Bagaimana kondisi bangunan pasar? Apakah tersedia jalur evakuasi yang memadai? Bagaimana akses kendaraan pemadam menuju lokasi? Apakah fasilitas penanggulangan kebakaran tersedia dan berfungsi ketika dibutuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tuduhan. Ia merupakan bagian dari upaya memahami mengapa sebuah kebakaran dapat berkembang menjadi bencana dengan korban jiwa yang begitu besar.

Apalagi, enam korban merupakan anak-anak. Mereka berada di kawasan yang seharusnya menjadi ruang aktivitas masyarakat, tetapi berubah menjadi tempat yang mematikan ketika api berkobar pada tengah malam.

Karena itu, tragedi Bapouda perlu menjadi bahan evaluasi terhadap keselamatan kawasan pasar dan kesiapan pemerintah menghadapi keadaan darurat. Bukan untuk mencari kesalahan secara tergesa-gesa, melainkan untuk memastikan bahwa setiap kemungkinan penyelamatan diperiksa secara serius.

Polisi Masih Mencari Jawaban

Hingga kini, kepolisian belum menyebut adanya kesimpulan mengenai penyebab kebakaran. Aparat masih mengumpulkan keterangan para saksi dan melakukan pemeriksaan tempat kejadian perkara.

“Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Kami masih mengumpulkan keterangan dari para saksi dan melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara,” kata Henry.

Pernyataan itu menegaskan bahwa penyebab kebakaran belum dapat dipastikan. Karena itu, setiap kesimpulan mengenai sumber api maupun faktor penyebab besarnya dampak masih harus menunggu hasil penyelidikan.

Yang telah diketahui, 40 rumah kios hangus terbakar dan 11 orang kehilangan nyawa.

Di balik angka itu terdapat keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Ada pula enam anak yang namanya kini tercatat dalam daftar korban.

Tragedi ini tidak boleh berhenti sebagai catatan tentang api yang padam pada pukul 03.30 WIT. Ia harus menjadi momentum untuk memeriksa kembali keselamatan kawasan pasar, kesiapan penanggulangan kebakaran, dan kemampuan warga menyelamatkan diri ketika keadaan darurat terjadi.

Sebab, pertanyaan paling penting setelah kebakaran bukan hanya dari mana api berasal, melainkan mengapa sebelas nyawa tidak berhasil diselamatkan—dan apa yang harus dilakukan agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

Di Paniai, bara telah padam. Tetapi tanggung jawab untuk menjaga kehidupan tidak boleh ikut menjadi abu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *