Di sudut jalan Samudra, aroma kopi bercampur panasnya kritik. Alfred Surya Putra Panduu, Ketua LPKN Soppeng, tak lagi menahan diri: “Banyak pengamat warkop sekarang, duduk santai tapi sok tahu segalanya.”
SOPPENG | BUSERKOTA.Com| —
Nada suaranya tegas, kalimatnya tajam. Alfred Surya Putra Panduu, Ketua Lembaga Pemantau Korupsi dan Aparatur Negara (LPKN) Kabupaten Soppeng, melontarkan kritik keras terhadap maraknya fenomena “pengamat pesanan” yang mulai meramaikan warung-warung kopi di wilayah itu.
Dalam keterangannya kepada sejumlah awak media, Minggu (9/11/2025), Alfred menilai kemunculan para “pengamat dadakan” ini telah mencederai objektivitas publik dalam menilai jalannya pemerintahan dan pelaksanaan proyek daerah.
“Akhir-akhir ini banyak muncul pengamat warung kopi yang seolah paling tahu segalanya, padahal hanya jadi corong pembela proyek dan pejabat. Mereka ini saya sebut pengamat pesanan,” sindir Alfred pedas.
Menurutnya, banyak di antara mereka yang terburu-buru membela pemerintah tanpa data yang kuat, sekadar meredam kritik media terhadap proyek-proyek yang diduga bermasalah.
“Wartawan itu turun ke lapangan, memantau, mewawancarai, dan menulis berdasarkan fakta. Jadi siapa yang sebenarnya tidak berimbang? Yang duduk di warkop menunggu ‘arahan’ atau yang bekerja di lapangan mencari kebenaran?” katanya menohok.
Alfred menegaskan, pemberitaan kritis bukanlah serangan terhadap pemerintah, melainkan wujud dari fungsi kontrol sosial yang melekat pada dunia pers.
“Kalau wartawan diam, negara bisa gelap. Kritik itu bukan musuh, tapi alarm agar tidak ada penyimpangan,” ujarnya penuh makna.
Lebih jauh, ia menuding adanya kelompok yang dengan mudah memberi pujian terhadap proyek pemerintah tanpa dasar yang jelas — bahkan diduga telah “masuk angin”.
“Yang paling lucu itu, ada yang duduk santai di warkop, belum lihat proyeknya sudah memuji habis-habisan. Itu bukan pengamat, itu penjilat. Saya curiga, mereka sudah dapat bagian,” cetusnya sinis.
Alfred menutup keterangannya dengan penegasan moral yang mencerminkan posisi lembaganya:
“Soppeng butuh pengawasan, bukan pembenaran. Kalau semua sibuk menjilat, siapa yang berani bicara kebenaran?”
Dengan nada yang tenang tapi menyengat, Alfred mengingatkan: dalam dunia yang kian ramai dengan suara-suara pesanan, masih ada yang memilih berdiri di sisi nurani.
Penulis: Firman
Editor: Agustinus Bobe














