Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Senyap Bukit Signal, Tindakan Tegas di Ujung Nabire

117
×

Senyap Bukit Signal, Tindakan Tegas di Ujung Nabire

Sebarkan artikel ini

NABIRE | BUSERKOTA.Com — Pagi belum sepenuhnya membuka mata ketika Bukit Signal di tepian Kali Pepaya menyimpan satu cerita yang bergetar dalam diam. Di antara rimbun dan sunyi yang kerap menipu, aparat gabungan TNI–Polri bergerak pasti—membaca jejak, menakar risiko, dan menuntaskan satu bab dari rangkaian panjang kekerasan bersenjata di Papua Tengah.

Senin, 16 Maret 2026, Satgas Rajawali Mambri bersama Satgas Operasi Damai Cartenz mengambil tindakan tegas dan terukur terhadap salah satu anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) dari Kodap III D Dulla, jaringan yang dipimpin Aibon Kogoya. Dalam operasi yang berlangsung singkat namun menentukan itu, seorang anggota KKB bernama Hurbianus Mirip dinyatakan meninggal dunia.

Hurbianus bukan nama asing dalam catatan aparat. Ia telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak 2025, dengan jejak dugaan keterlibatan dalam berbagai aksi kekerasan di wilayah Nabire dan Paniai.

“Hurbianus Mirip merupakan anggota KKB Kodap III D Dulla yang telah masuk dalam daftar pencarian orang sejak 2025 karena diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan bersenjata di wilayah Nabire dan Paniai.”

Keterangan itu disampaikan Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol. Yusuf Sutejo. Ia menjelaskan, rangkaian aksi yang dituduhkan kepada kelompok tersebut bukan perkara kecil—melainkan deretan peristiwa berdarah yang meninggalkan luka panjang.

Pada 13 Agustus 2025, dua personel Brimob gugur dalam serangan yang juga disertai perampasan dua pucuk senjata api jenis AK-101. Lalu pada 17 Oktober 2025, tembakan kembali pecah di Kali Semen, menyasar masyarakat dan aparat. Jalan Trans Nabire–Paniai sempat lumpuh akibat aksi pemalangan pada 20 Oktober 2025, sebelum kontak tembak kembali terjadi di kawasan Bukit Doa pada 27 November 2025.

Puncaknya, pada 21 Februari 2026, kelompok ini diduga menyerang pos pengamanan TNI di area PT Kristalin. Satu prajurit TNI dan satu warga sipil menjadi korban jiwa, disertai perampasan tiga pucuk senjata api.

Tak berhenti di situ, jejak kekerasan juga menyentuh ruang sipil. Seorang anggota polisi, BRIPDA Kanza A. Mampioper, menjadi korban penganiayaan di Pasar Enarotali (PLN Lama), Kabupaten Paniai—mengalami luka serius pada dada, kepala, dan tangan.

“Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Satgas Rajawali Mambri akan terus menjaga keamanan masyarakat serta memastikan situasi tetap kondusif dari berbagai aksi kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata.”

Pernyataan itu ditegaskan Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani.

Sementara itu, Wakil Kepala Operasi, Kombes Pol. Adarma Sinaga, mengingatkan masyarakat agar tidak terombang-ambing oleh arus informasi yang belum terverifikasi.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman dan kondusif di Provinsi Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Nabire, serta segera melaporkan kepada aparat apabila mengetahui adanya aktivitas yang mencurigakan.”

Analisis Kontekstual
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa dinamika keamanan di Papua Tengah bukan sekadar soal penegakan hukum, tetapi juga berkelindan dengan persoalan geografis, jaringan kelompok bersenjata, serta trauma sosial yang terus berulang. Operasi tegas menjadi bagian dari upaya memutus rantai kekerasan, namun tetap membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh agar rasa aman benar-benar tumbuh di tengah masyarakat.

Kini, Bukit Signal kembali sunyi. Namun di balik kesunyian itu, tersimpan satu pesan yang tak pernah benar-benar reda—bahwa damai di tanah ini tidak pernah datang dengan mudah, dan selalu menuntut keberanian untuk menjaganya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *