JAYAPURA |BUSERKOTA Com —
Di antara aroma kayu yang pernah terbakar dan dinding-dinding yang kini menjadi saksi pengungsian, tawa anak-anak itu kembali terdengar. Tidak keras. Tidak meledak. Tapi cukup untuk menandakan: harapan belum padam.
Kamis (26/2/2026), personel 2026 menyambangi , membawa bukan hanya paket sembako, tetapi juga ruang aman bagi jiwa-jiwa kecil yang sempat diguncang peristiwa.
Kegiatan digelar di dan di Barak 6 SPN Polda Papua — lokasi sementara pengungsian anak-anak yang beberapa waktu lalu terdampak kebakaran.
Di barak pengungsian, tawa itu dicari kembali
Barak itu sederhana. Ranjang- ranjang tersusun rapi. Dindingnya menyimpan sisa kecemasan. Namun siang itu, suasana berubah.
Dipimpin IPTU Ali Akbar, S.E., personel Ban Ops menyerahkan bantuan bahan makanan dan makanan ringan kepada total 70 anak dari dua panti asuhan. Plastik-plastik sembako berpindah tangan. Tetapi yang lebih penting: rasa diperhatikan berpindah ke hati.
Bagi 40 anak Panti Asuhan Pembawah Terang yang masih dalam masa pemulihan psikologis, kehadiran tim bukan sekadar formalitas.
Ice breaking dimulai. Tepuk tangan berirama. Gerak kecil yang memaksa senyum muncul perlahan. Energizer sederhana, tetapi cukup untuk memecah sisa trauma.
Beberapa anak awalnya diam. Menunduk. Menghindari tatapan.
Namun lima belas menit kemudian, suara mereka mulai menyatu dalam permainan.
Di situlah pemulihan bermula.
Koordinasi yang tidak sekadar administratif
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, , menjelaskan bahwa kegiatan diawali dengan koordinasi bersama pengelola panti.
“Hasil kegiatan menunjukkan koordinasi berjalan baik sehingga pembagian sembako dan dukungan psikososial dapat terlaksana dengan aman, tertib, dan lancar.”
Bagi Satgas, kata Faizal, bantuan harus tepat sasaran — bukan sekadar hadir untuk difoto, melainkan benar-benar menjawab kebutuhan lapangan.
“Kami ingin anak-anak ini tetap merasa aman”
Di tempat berbeda, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, , menegaskan bahwa misi kemanusiaan adalah bagian tak terpisahkan dari tugas menjaga stabilitas Papua.
“Satgas Damai Cartenz tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga berupaya hadir membantu masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak yang terdampak musibah.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi di barak pengungsian, maknanya terasa nyata.
Anak-anak yang sempat kehilangan ruang tidur mereka kini menemukan ruang bermain kembali. Pengurus panti yang sempat kewalahan kini merasakan tangan yang membantu.
Negara hadir, bukan hanya dengan aparat, tapi dengan empati
Peristiwa kebakaran memang menyisakan trauma. Namun pemulihan tidak selalu dimulai dengan bangunan baru. Kadang ia dimulai dengan tawa kecil yang dipancing melalui permainan sederhana.
Satgas Damai Cartenz 2026 memastikan kegiatan kemanusiaan seperti ini akan terus digelar sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sekaligus kesejahteraan masyarakat di Tanah Papua.
Di Jayapura, siang itu, tidak ada sirene. Tidak ada ketegangan.
Yang ada hanyalah anak-anak yang kembali berani tersenyum.
Dan mungkin, itulah makna paling sunyi dari keamanan:
ketika yang dijaga bukan hanya wilayah, tetapi juga masa depan.














