Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalInfo PublikPemerintahanPeristiwa

Galian C Bantaran Sungai Ular Ditutup: Dari Kegelisahan Warga Menuju Syukur Besar dan Harapan Baru bagi Lingkungan

41
×

Galian C Bantaran Sungai Ular Ditutup: Dari Kegelisahan Warga Menuju Syukur Besar dan Harapan Baru bagi Lingkungan

Sebarkan artikel ini

DELI SERDANG |BUSERKOTA.Com– Siang itu, Jalan Sempurna di Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin, tidak hanya dipenuhi suara doa dan tawa anak-anak yatim. Di bawah langit Deli Serdang yang teduh, ratusan warga dari lima kecamatan berkumpul dalam satu suasana yang sulit dilukiskan hanya sebagai sebuah acara seremonial.

Mereka datang membawa rasa syukur.

Syukur atas berhentinya aktivitas galian C di bantaran Sungai Ular yang selama bertahun-tahun menjadi sumber keresahan masyarakat. Syukur karena suara warga yang sempat terdengar lirih kini menjelma menjadi kebijakan nyata. Dan syukur karena perjuangan menjaga lingkungan akhirnya menemukan titik terang.

Pesta rakyat, doa bersama, dan santunan bagi 350 anak yatim yang digagas oleh Perkumpulan Masyarakat Peduli Keutuhan dan Kelestarian Bantaran Sungai Ular Sumatera Utara (PMPKKBSUSU) bersama Satgas Elang Biru DPP Garpu Nasdem berlangsung penuh kehangatan, Kamis (25/6/2026).

Di antara deretan tamu undangan, hadir perwakilan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera (BBWSS) II Medan, unsur Forkopimda, aparat penegak hukum, serta berbagai elemen masyarakat yang selama ini ikut mengawal penertiban lokasi galian mineral bukan logam dan batuan (MBLB) di kawasan bantaran Sungai Ular.

Sebelum memasuki arena acara, para tamu disambut tarian reog dan pertunjukan wayang orang. Alunan budaya Jawa berpadu dengan kalungan bunga penghormatan serta prosesi tepung tawar yang dilakukan para ibu pengajian setempat. Sambutan itu menghadirkan suasana hangat, seolah menjadi simbol penghormatan terhadap ikhtiar panjang masyarakat dalam menjaga ruang hidup mereka.

Di tengah suasana penuh rasa syukur tersebut, Dansatgas Elang Biru DPP Garpu Nasdem yang juga Penasehat PMPKKBSUSU, Jaiman Supnur atau yang akrab disapa Okky, memimpin doa bersama. Baginya, momentum ini bukan sekadar perayaan, melainkan penanda kemenangan masyarakat dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan.

“Saat ini saya selaku Penasehat PMPKKBSUSU dan juga selaku Dansatgas Elang Biru DPP Garpu Nasdem menggaransi bahwa tidak ada lagi galian C di bantaran Sungai Ular di wilayah lima kecamatan, yakni Beringin, Galang, Pagar Merbau, Lubuk Pakam dan Pantai Labu. Setelah penutupan, PMPKKBSUSU terus melakukan pengawasan,” tegas Jaiman Supnur.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Deli Serdang, Forkopimda, aparat penegak hukum, BBWSS II Medan, serta seluruh elemen masyarakat yang selama ini membuka ruang koordinasi dan menindaklanjuti berbagai pengaduan terkait aktivitas galian C yang dinilai mengancam keberlangsungan bantaran Sungai Ular.

Selama beberapa tahun terakhir, kerusakan lingkungan akibat aktivitas galian C di kawasan tersebut menjadi kekhawatiran serius warga. Pengikisan bantaran sungai dinilai berpotensi memicu bencana yang dapat mengancam permukiman dan lahan pertanian masyarakat apabila terjadi kerusakan yang lebih luas.

Kekhawatiran itulah yang kemudian mendorong lahirnya kolaborasi antara masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, Denpom Lubuk Pakam, hingga BBWSS II Medan. Kolaborasi tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan ditertibkannya seluruh aktivitas galian C di bantaran Sungai Ular dalam beberapa bulan terakhir.

Kepala BBWSS II Medan, Feriyanto Pawenrusi, ST., MT., mengaku terkesan dengan penyambutan masyarakat yang sarat nilai budaya dan kebersamaan.

“Saya seumur hidup baru kali ini disambut dengan seni reog dan wayang orang serta dikalungi rangkaian bunga sebagai tanda penghormatan. Sangat luar biasa masyarakat yang tergabung dalam PMPKKBSUSU,” ujarnya.

Feriyanto menegaskan bahwa kawasan bantaran sungai merupakan wilayah yang berada dalam pengawasan BBWSS II Medan. Karena itu, pihaknya telah menyiapkan langkah lanjutan berupa perbaikan sejumlah titik bantaran yang mengalami kerusakan akibat aktivitas galian C.

Menurutnya, terdapat sekitar 12 titik kerusakan bantaran Sungai Ular di wilayah Kabupaten Deli Serdang dengan panjang mencapai sekitar 40 kilometer. Program perbaikannya telah dianggarkan untuk tahun 2026 hingga 2027.

“Langkah tegas masyarakat dari PMPKKBSUSU ini perlu dicontoh oleh masyarakat di Kabupaten Serdang Bedagai, sehingga kerusakan bantaran Sungai Ular dapat teratasi,” katanya.

Sementara itu, Bupati Deli Serdang Asriludin Tambunan yang diwakili Kepala Dinas Sosial Yusnaldi menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir langsung akibat agenda pelantikan 76 kepala desa di hari yang sama.

Melalui sambutannya, Yusnaldi menyampaikan apresiasi Bupati kepada masyarakat yang dinilai memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan berani menyuarakan aspirasi melalui jalur yang konstruktif.

“Bupati Deli Serdang sangat mengapresiasi masyarakat PMPKKBSUSU yang peduli terhadap lingkungan dan berani mengadu serta bertindak bersama Forkopimda dan aparat penegak hukum untuk menutup lokasi galian C ilegal tersebut,” ujar Yusnaldi.

Ia juga menegaskan bahwa pengawasan pascapenutupan akan terus dilakukan melalui patroli bersama antara pemerintah, aparat, dan masyarakat guna memastikan aktivitas galian C tidak kembali muncul.

Secara kontekstual, keberhasilan penertiban galian C di bantaran Sungai Ular menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan tidak selalu lahir dari kebijakan formal semata, melainkan juga dari keberanian masyarakat menjaga ruang hidupnya. Ketika warga, pemerintah, dan aparat bergerak dalam satu arah yang sama, upaya penyelamatan lingkungan dapat berubah menjadi gerakan kolektif yang menghadirkan dampak nyata bagi generasi mendatang.

Puncak acara ditandai dengan penyerahan santunan secara simbolis kepada puluhan anak yatim berupa sembako dan bantuan uang tunai, bertepatan dengan 10 Muharram 1448 Hijriah yang dikenal sebagai hari istimewa bagi anak yatim. Setelah itu, seluruh peserta menikmati makan bersama menggunakan daun pisang sebagai alas hidangan, menghadirkan suasana sederhana namun sarat makna kebersamaan.

Di tepi Sungai Ular yang kini mulai menemukan kembali harapannya, syukur yang dipanjatkan hari itu bukan hanya tentang berhentinya alat-alat pengeruk tanah. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa alam yang dijaga dengan kesadaran bersama akan selalu memberi ruang bagi kehidupan untuk tumbuh, mengalir, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *