Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaInfo PublikPeristiwa

Kobaran Api Melumat Rumah dan Kios di Manu Aman, Satu Keluarga Menyaksikan Harapan Menjadi Abu

90
×

Kobaran Api Melumat Rumah dan Kios di Manu Aman, Satu Keluarga Menyaksikan Harapan Menjadi Abu

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA | BUSERKOTA.Com– Keheningan dini hari yang biasanya menjadi waktu paling tenang bagi warga Kelurahan Manu Aman mendadak pecah oleh kepulan asap dan cahaya api yang menari liar di tengah gelap malam. Dalam hitungan menit, kobaran itu berubah menjadi amukan yang melahap sebuah rumah sekaligus kios milik pasangan suami istri, Alexander Lona dan Marta Pingga, di RT 007/RW 002, Kelurahan Manu Aman, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Kamis (25/06/2026) sekitar pukul 02.30 WITA.

Di saat sebagian besar warga masih terlelap, kepulan asap tebal mulai terlihat keluar dari bangunan tersebut. Tak lama berselang, api membesar dengan cepat dan menjalar ke seluruh bagian rumah dan kios. Suara teriakan warga yang berusaha memberi peringatan memecah sunyi malam, sementara cahaya merah menyala memantul di antara rumah-rumah sekitar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kebakaran diduga kuat dipicu oleh korsleting listrik. Kondisi bangunan yang dengan cepat dikuasai api membuat warga sekitar bergerak spontan melakukan upaya pemadaman secara swadaya sembari menunggu kedatangan personel Satpol PP Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Belu.

Di tengah kepanikan itu, Marta Pingga hanya bisa berjuang menyelamatkan apa yang masih mungkin diselamatkan. Namun waktu berpihak pada kobaran api.

“Saat kejadian saya berada di luar rumah. Saya sempat berusaha menyelamatkan barang-barang berharga dan dokumen penting, tetapi api membesar begitu cepat. Panasnya semakin kuat sehingga kami harus segera keluar untuk menyelamatkan diri,” tutur Marta dengan suara yang masih menyimpan kepedihan.

Api yang terus membesar membuat keluarga tidak memiliki banyak pilihan selain meninggalkan bangunan demi keselamatan jiwa. Dalam waktu singkat, seluruh barang dagangan yang tersimpan di dalam kios, perabot rumah tangga, pakaian, hingga berbagai kebutuhan pokok yang selama ini menjadi penopang kehidupan keluarga, habis dilalap si jago merah.

Saat fajar perlahan menyingsing di ufuk Atambua, yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan yang menghitam, aroma kayu terbakar yang masih menyengat, serta kesunyian yang berbeda dari malam sebelumnya. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung sekaligus sumber penghidupan keluarga berubah menjadi sisa-sisa kenangan yang berserakan di antara abu.

Secara kontekstual, peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko kebakaran akibat gangguan instalasi listrik pada kawasan permukiman padat. Selain pentingnya pemeriksaan instalasi secara berkala, kesiapsiagaan masyarakat dan akses cepat terhadap layanan pemadam kebakaran menjadi faktor krusial untuk meminimalkan dampak kerugian ketika musibah serupa terjadi.

Musibah itu memang telah menghanguskan bangunan dan harta benda, tetapi tidak mampu membakar semangat sebuah keluarga untuk kembali bangkit. Di antara puing yang masih mengepulkan asap, tersimpan harapan bahwa setiap kehilangan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari keberanian untuk membangun kembali kehidupan yang sempat runtuh dalam satu malam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *