Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalInternasionalPemerintahanPeristiwaPolitik

Sutan Nasomal: Bijak Memaknai “Londo Ireng”, Karena Sejarah Tak Pernah Mati

17
×

Sutan Nasomal: Bijak Memaknai “Londo Ireng”, Karena Sejarah Tak Pernah Mati

Sebarkan artikel ini

JAKARTA |BUSERKOTA.Com – Sejarah tidak selalu datang melalui buku-buku yang tersusun rapi di perpustakaan. Kadang ia hadir melalui sebuah ungkapan, melintas dalam pidato seorang pemimpin, lalu mengendap di ruang publik sebagai pertanyaan yang menuntut kebijaksanaan.

Di tengah perdebatan mengenai makna penyebutan istilah Jawa “Londo Ireng” dalam pidato Presiden RI Prabowo Subianto, Profesor Sutan Nasomal, SH, MH, mengajak masyarakat untuk tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. Menurut dia, ungkapan tersebut perlu dipahami secara bijaksana dan ditempatkan dalam konteks sejarah serta dinamika kehidupan berbangsa.

Kita harus bijaksana mengartikan Londo Ireng. Jangan setiap ungkapan langsung ditarik ke dalam prasangka. Ada konteks sejarah yang harus dipahami, karena sejarah adalah saksi yang terus hidup dan akan tetap menjadi bagian dari perjalanan bangsa sampai kapan pun,” ujar Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, saat menjawab pertanyaan sejumlah pemimpin redaksi media cetak dan daring dalam maupun luar negeri melalui sambungan telepon seluler dari kantornya di Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, kawasan Cijantung, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Sutan Nasomal, di negara maju sekalipun selalu terdapat pihak-pihak yang berupaya menimbulkan keresahan, keguncangan, maupun ketidakstabilan. Situasi tersebut, kata dia, dapat muncul melalui berbagai bentuk, mulai dari demonstrasi hingga persoalan ekonomi dan dinamika sosial lainnya.

Ia menilai, masyarakat perlu membangun kesadaran dalam membaca setiap pernyataan Presiden, termasuk ketika sebuah ungkapan memiliki dimensi sejarah dan politik yang lebih luas.

Kita perlu belajar tenang dalam memahami ucapan seorang kepala negara. Jangan mudah terpancing oleh sebuah istilah sebelum memahami konteksnya. Bisa jadi, yang sedang disampaikan adalah sebuah tes ombak—sebuah cara untuk membaca respons publik terhadap persoalan yang lebih besar,” kata Sutan.

Ia kemudian mengaitkan istilah “Londo Ireng” dengan pihak-pihak tertentu yang, menurut pandangannya, terlibat dalam pekerjaan atau aktivitas yang menerima order dari pihak asing.

Sutan Nasomal mengatakan, pihak yang merasa tersinggung dengan ungkapan tersebut tidak seharusnya langsung menganggap bahwa istilah itu ditujukan kepada seluruh warga negara Indonesia maupun seluruh orang yang menjalani profesi tertentu.

Menurut dia, istilah tersebut harus dipahami secara spesifik dan tidak digeneralisasi.

Ungkapan itu bukan untuk semua WNI dan bukan pula untuk semua orang dalam profesi tertentu. Bagi mereka yang tidak melakukan apa yang dimaksud dalam ungkapan tersebut, tidak perlu merasa tersinggung. Jangan sampai kita memukul rata sesuatu yang seharusnya dipahami secara kontekstual,” ujarnya.

Sutan juga menyebut bahwa Presiden RI memiliki laporan intelijen mengenai dugaan aliran dana dari pihak asing ke rekening sejumlah oknum WNI, serta informasi mengenai pertemuan-pertemuan tertentu dan rekam jejak pihak-pihak yang disebutnya berkaitan dengan persoalan tersebut.

Namun, ia tidak merinci sumber maupun bukti yang dimaksud dalam pernyataannya.

Analisis kontekstual

Dalam ruang demokrasi, istilah yang lahir dari sejarah dan budaya memang dapat memiliki resonansi yang berbeda ketika digunakan dalam pidato politik. Di satu sisi, ungkapan seperti “Londo Ireng” dapat dibaca sebagai metafora untuk menggambarkan fenomena tertentu; di sisi lain, tanpa konteks yang jelas, istilah tersebut berpotensi ditafsirkan secara luas dan memicu perdebatan di tengah masyarakat. Karena itu, tantangan publik bukan sekadar memilih antara menerima atau menolak sebuah istilah, melainkan memahami konteks penggunaannya secara kritis, membedakan antara fakta dan opini, serta tidak menghakimi kelompok tertentu tanpa bukti yang dapat diverifikasi. Dalam demokrasi yang sehat, kritik terhadap kekuasaan dan kewaspadaan terhadap pengaruh asing sama-sama penting, tetapi keduanya harus tetap berjalan bersama prinsip kehati-hatian, transparansi, dan penghormatan terhadap hukum.

Sutan Nasomal meminta masyarakat agar tidak mudah terpancing emosi apabila merasa tidak termasuk dalam pihak yang dimaksud dalam penggunaan istilah tersebut.

Menurut dia, reaksi berlebihan justru dapat memperkeruh suasana dan mengaburkan substansi persoalan yang sedang dibicarakan.

Jangan terpancing. Jika seseorang merasa tidak melakukan apa yang dimaksud, maka tidak ada alasan untuk bereaksi secara emosional. Yang paling penting adalah menjaga ketenangan dan membiarkan setiap persoalan diuji melalui fakta, hukum, dan proses yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Sebagai pembina umum sejumlah media nasional, Sutan Nasomal juga mengajak para sahabat dan masyarakat untuk menyimak makna “Londo Ireng” secara bijaksana.

Ia menyampaikan dukungannya kepada Presiden RI Prabowo Subianto dalam menghadapi berbagai persoalan yang dinilainya berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara.

Berbijaklah dalam menyimak makna Londo Ireng. Jangan kehilangan senyum hanya karena sebuah istilah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menjaga Indonesia tetap berdiri tegak, sementara setiap dugaan pengkhianatan terhadap kepentingan negara harus dihadapi dengan hukum dan kebenaran, bukan dengan amarah,” ujar Sutan.

Ia juga mengajak masyarakat mendoakan Presiden RI Prabowo Subianto agar senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala negara.

Doakan Presiden Prabowo Subianto agar sehat wal afiat dan mampu menghadapi setiap oknum yang merugikan kepentingan bangsa dan negara,” tuturnya.

Sutan Nasomal dikenal sebagai Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional, Presiden Partai Oposisi Merdeka Jenderal Kompii, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, Pengasuh Ponpes Ass-Saqwa Plus, serta Ketua Umum YPLBH Profesor Doktor Sutan Nasomal, SH, MH.

Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya diuji oleh badai yang datang dari luar, tetapi juga oleh kemampuannya membaca setiap tanda dengan kepala dingin. Sebab sejarah akan terus menjadi saksi—dan waktu selalu memiliki caranya sendiri untuk memisahkan antara kebenaran, prasangka, dan mereka yang sekadar berbicara atas nama zaman.

Penulis: Redaksi Buserkota.com Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *