JAKARTA – |BUSERKOTA.COM]
Suasana duka menyelimuti ruang jenazah RSCM Polri, Jumat dini hari (29/8/2025). Di balik isak tangis keluarga, tampak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir, menemui sanak keluarga Affan Affan Kurniawa, sopir ojek online asal Sukabumi yang meregang nyawa usai terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Penjernihan, Jakarta Pusat.
Di hadapan keluarga yang terpukul, Sigit tampak memeluk erat salah satu anggota keluarga Umar. Pelukan itu bagai bahasa diam—sebuah ungkapan duka yang lebih dalam daripada sekadar kata maaf.
“Kami akan mengusut tuntas. Propam Polri sudah diperintahkan untuk mendalami kasus ini. Tidak ada yang akan ditutupi,” ujar Kapolri dengan suara berat, seraya berjanji memberi keadilan bagi keluarga korban.
Pemuda Perantau yang Pulang dengan Sunyi
Umar bukanlah seorang demonstran, bukan pula aparat bersenjata. Ia hanyalah anak muda sederhana kelahiran Sukabumi, 19 Agustus 1995, yang berjuang mengais rezeki dengan jaket hijau ojek online di jalanan ibu kota.
Namun, takdir berkata lain. Malam Kamis itu, tubuh Kurniawan terhenti di aspal, tak berdaya di bawah roda kendaraan taktis Brimob. Video detik-detik kejadian tersebar luas di media sosial, membuat publik menjerit pilu.
KTP dengan nama dan alamatnya—Kampung Sukamukti, Cikidang, Sukabumi—menjadi saksi bisu. Dari selembar kartu identitas itulah, dunia mengenal Kurniawan sebagai anak bangsa yang gugur dengan tragis.
Tujuh Anggota Brimob Diamankan
Polri tidak menutup mata. Kapolri memastikan tujuh anggota Brimob yang diduga terlibat sudah diamankan dan kini tengah menjalani pemeriksaan.
“Proses hukum akan berjalan. Kami ingin peristiwa ini terang-benderang, agar keluarga mendapatkan kepastian dan publik tidak meragukan komitmen Polri,” tegas Sigit.
Langkah ini diambil untuk menjawab keresahan publik yang mengecam keras insiden tersebut.
Dua Luka, Dua Cerita
Tragedi ini bukan satu-satunya luka di malam ricuh itu. Seorang anggota Polri juga dilaporkan kritis akibat bentrokan di sekitar DPR. Kadiv Propam Polri Irjen Pol Abdul Karim membenarkan kabar tersebut.
“Anggota Polri yang dirawat saat ini ada satu yang kritis. Saat ini tengah mendapat penanganan di RS Kramat Jati,” ujarnya.
Dua korban, dua sisi berbeda. Satu dari rakyat jelata, satu dari aparat negara. Keduanya menjadi simbol betapa mahalnya harga sebuah kericuhan.
Doa dari Sukabumi
Di rumah sederhana di Sukabumi, orang tua Kurniawan menanti kepulangannya. Namun kepulangan itu kini berbeda—tanpa tawa, tanpa cerita, hanya peti jenazah yang dibalut kain putih.
Tangisan keluarga Kurniawan menyatu dengan doa. Mereka hanya berharap anaknya diperlakukan dengan hormat, dan keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.
“Kami ikhlas, tapi jangan sampai Umar pergi sia-sia. Jangan ada lagi korban seperti dia,” ujar seorang kerabat lirih, matanya sembab menahan air mata.
Elegi di Jalanan Ibu Kota
Kini, nama Umar Amarudin bukan sekadar identitas di KTP. Ia telah menjadi simbol luka—luka rakyat kecil yang kerap terhimpit di antara benturan kekuasaan dan kerumunan demonstrasi.
Jakarta berhutang pada Umar: hutang empati, hutang kemanusiaan, hutang keadilan.
Selamat jalan Kurniawan.
Air mata Sukabumi kini telah menjadi doa bangsa.
Semoga kepergianmu membuka jalan bagi lahirnya keadilan yang sesungguhnya.














