Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalPemerintahanPeristiwaSosial

Ketika Prajurit Menurunkan Senjata, dan Mengulurkan Tangan

101
×

Ketika Prajurit Menurunkan Senjata, dan Mengulurkan Tangan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA|BUSERKOTA. Com] – Jumat pagi itu, udara Kwitang lebih berat dari biasanya. Asap sisa ban terbakar masih menempel di jalanan, teriakan massa bercampur dengan sirine, dan ketegangan menebal di sekitar Mako Brimob, Jakarta Pusat. Ribuan warga dan pengemudi ojek daring tumpah ruah, menyuarakan keluh kesah mereka dengan amarah.

Namun di antara riuh itu, hadir sekelompok prajurit TNI. Mereka bukan datang untuk menakuti, melainkan untuk menenangkan.

Bukan dengan derap sepatu tempur, tetapi dengan langkah sederhana: menyapa, merangkul, duduk bersisian.

Puluhan prajurit TNI AD dan TNI AL melebur bersama kerumunan, membagi air minum kepada warga yang kelelahan, membersihkan sampah-sampah sisa aksi, hingga membantu mengevakuasi mobil yang terbakar. Gestur kecil itu seakan mengubah suhu jalanan: dari panas menjadi teduh, dari amarah menuju dialog.

“Kami hadir bukan untuk menekan, tapi untuk mendengar. Bukan untuk melawan, melainkan untuk menjaga agar tidak ada yang terluka,” ucap seorang prajurit dengan suara pelan namun menyejukkan.

Di hadapan massa yang marah, prajurit memilih merendahkan diri. Alih-alih menebar komando, mereka menebar simpati. Di sela dialog, mereka mengingatkan agar aspirasi disampaikan tanpa provokasi. “Kita bisa bicara tanpa harus saling melukai,” begitu pesan yang berulang kali mereka sampaikan.

Humanisme yang Menjadi Tameng

Langkah TNI di Kwitang mengingatkan kita pada watak sejatinya: tentara rakyat. Mereka lahir dari rahim bangsa, dan tugas mereka bukan semata menjaga batas negara, melainkan juga merawat batin rakyat. Humanisme menjadi tameng, bukan senjata.

Situasi yang semula mengancam pecah, berangsur teduh. Warga mulai duduk, obrolan kecil terjalin, dan sebagian bahkan ikut membantu prajurit membersihkan jalanan. Ada harmoni yang tercipta—harmoni yang mungkin tak bisa dibeli dengan kekuatan senjata, tetapi lahir dari kesediaan untuk merangkul.

Pekerjaan Rumah Pemerintah dan DPR RI

Namun, harus diakui, kehadiran TNI di jalanan hanya menyembuhkan gejala, bukan akar masalah. Di balik amarah massa, tersimpan luka panjang: beban hidup, ketidakadilan ekonomi, regulasi yang dirasa menekan, dan suara rakyat kecil yang tak sampai ke telinga kekuasaan.

TNI sudah menunjukkan jalan: mendengar, merangkul, dan bekerja bersama rakyat. Kini giliran pemerintah pusat dan DPR RI menjadikannya teladan. Aspirasi massa harus direspons dengan kebijakan yang berpihak. Bukan dengan janji kosong, melainkan dengan langkah konkret yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Jika prajurit saja bisa menundukkan ego untuk mendengar rakyat, maka seharusnya para pengambil kebijakan di Senayan dan Istana juga bisa merendahkan diri untuk melayani.

Sebuah Cermin untuk Negeri

Peristiwa di Kwitang adalah cermin: bahwa bangsa ini bisa terpecah jika hanya dipenuhi emosi, tetapi juga bisa kembali teduh jika ada yang memilih hadir dengan hati. TNI telah memberi contoh sederhana namun kuat—bahwa perdamaian lahir bukan dari teriakan paling keras, melainkan dari tangan yang diulurkan dengan tulus.

“Menjaga negeri bukan hanya soal mengangkat senjata. Kadang, justru dengan meletakkan senjata dan membuka hati, kita bisa memenangkan pertempuran yang paling penting: pertempuran melawan amarah,” tutur seorang perwira muda, sebelum kembali menyusuri jalanan yang baru saja mereka tenangkan.

Kini, bola ada di tangan para pemimpin bangsa. Jika hati prajurit mampu meredam gejolak jalanan, maka hati negara seharusnya lebih luas lagi untuk merangkul rakyatnya.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *