ATAMBUA, |BUSERKOTA Com) – Pagi itu, Kamis (28/8/2025), halaman Mapolres Belu tidak sekadar menjadi ruang apel rutin. Suara derap langkah, barisan tegap, dan simulasi kericuhan massa menjelma menjadi pelajaran hidup: bagaimana seorang aparat menjaga keamanan tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
Kapolres Belu, AKBP I Gede Eka Putra Astawa, S.H., S.I.K., memimpin langsung latihan pengendalian massa (Dalmas) yang melibatkan seluruh fungsi kepolisian, mulai dari Samapta, Reskrim, Intelkam, hingga Resnarkoba. Di sampingnya, berdiri Wakapolres Belu Kompol Lorensius, para Kabag, Kasat, perwira staf, serta jajaran brigadir dan ASN Polres Belu. Semua menyatu dalam satu irama: kesiapsiagaan.
Latihan dimulai dengan simulasi orasi massa yang diperankan oleh personel sendiri. Dari sekadar suara lantang yang masih terkendali, hingga meningkat menjadi situasi tak terkendali, bahkan brutal. Skenario yang disusun itu seolah menghadirkan cermin: betapa tipis jarak antara demokrasi dan anarki.
Dalam tiap tahap latihan, Kapolres tidak hanya memeriksa kelengkapan peralatan Dalmas—dari tameng, helm, hingga kendaraan taktis APC dan AWC—tetapi juga menekankan sikap. “Latihan ini bukan hanya soal teknik membubarkan massa, tapi tentang memahami kapan harus tegas, kapan harus sabar, dan bagaimana bersikap humanis dalam situasi genting,” ujarnya dengan nada menenangkan.
Ia menambahkan, penguasaan SOP adalah senjata utama setiap personel. “Kita sering disorot dalam penanganan aksi unjuk rasa. Karena itu, penting bagi kita semua untuk memahami prosedur dan tidak bertindak di luar aturan. Profesionalitas lahir dari latihan, kesabaran, dan kesadaran bahwa seragam yang kita kenakan adalah amanah rakyat,” tegas Kapolres.
Pesan itu mengalir seiring simulasi berlanjut: massa dibubarkan sesuai prosedur, provokator ditangkap, dan situasi kembali kondusif. Sebuah gambaran bahwa dalam setiap ketegangan, ada ruang untuk penyelesaian yang tertib dan bermartabat.
Kapolres menutup arahannya dengan pengharapan yang puitis. “Latihan ini adalah upaya menjaga kedamaian di Belu, wilayah yang berbatasan langsung dengan negara sahabat, Timor Leste. Semoga setiap personel semakin siap, semakin profesional, dan mampu menjaga kamtibmas dengan hati. Karena tugas kita bukan hanya mengamankan jalanan, tapi juga menjaga kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.
Latihan pengendalian massa ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah ikrar: bahwa Polri hadir bukan untuk menakuti, melainkan untuk melindungi, menenangkan, dan memastikan damai tetap bersemi di bumi perbatasan.














