Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalInfo PublikPeristiwa

Belis yang Berujung Darah: Malam Terakhir Simeon di Amfoang Selatan

192
×

Belis yang Berujung Darah: Malam Terakhir Simeon di Amfoang Selatan

Sebarkan artikel ini

KUPANG | BUSERKOTA.Com — Malam di Desa Leloboko seharusnya sunyi dan memeluk lelap. Namun, Rabu dini hari (18/3) pukul 00.05 WITA, keheningan itu pecah oleh amarah yang tak lagi terkendali. Di Kecamatan Amfoang Selatan, sebuah konflik keluarga yang diduga dipicu persoalan mahar (belis) berubah menjadi tragedi berdarah yang merenggut nyawa seorang petani, Simeon Naitasi (50).

Peristiwa itu bermula dari suara teriakan. Dari rumahnya, Simeon tampak diliputi emosi, suaranya menggema di antara gelap yang pekat. Ia kemudian berjalan kaki sekitar 60 meter menuju rumah adik iparnya, DB (64). Langkahnya cepat, nyaris tanpa jeda, seolah ada bara yang tak lagi mampu dipadamkan.

Tanpa mengetuk, tanpa menyapa, pintu rumah didobrak. Simeon masuk ke ruang tamu, tempat DB bersama istri dan anaknya berada. Dalam ruang yang sempit itu, ketegangan seketika menebal.

Diduga, Simeon mencoba menyerang dengan sebuah meja kayu. Namun DB menahan dengan tangan kiri, lalu mendorong balik hingga meja itu patah. Situasi berubah liar. Dalam hitungan detik, DB melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Simeon—enam hingga tujuh kali—hingga tubuh korban roboh telungkup ke lantai.

Namun kekerasan tak berhenti di situ.

Saat Simeon sudah tak berdaya, hantaman kembali diarahkan ke bagian belakang kepalanya—lebih dari lima kali. Ruang tamu itu berubah menjadi saksi bisu dari sebuah amarah yang melampaui batas.

Dalam kondisi kritis, Simeon sempat membalikkan tubuhnya. Napasnya tersengal, matanya mungkin mencoba menangkap sisa-sisa kesadaran. Di detik-detik terakhir hidupnya, ia mengucapkan kalimat yang menggantung di udara malam:

╔════════════════════════════════╗
“Ini malam katong mati.”
╚════════════════════════════════╝

Tak lama setelah itu, ia menghembuskan napas terakhir—di tempat ia roboh, di tengah rumah keluarga yang seharusnya menjadi ruang aman.

Pihak Polsek Amfoang Selatan yang dipimpin Kapolsek Ipda Andi Gunawan segera bergerak setelah menerima laporan. Lokasi kejadian diamankan, dan pelaku DB dibawa untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Tragedi ini menyisakan pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar kronologi. Belis—yang dalam banyak tradisi dipandang sebagai simbol penghormatan dan ikatan kekeluargaan—dalam konteks tertentu bisa berubah menjadi sumber tekanan sosial dan konflik laten, terutama ketika komunikasi keluarga retak dan emosi dibiarkan memuncak tanpa ruang penyelesaian.

Pada akhirnya, satu nyawa melayang bukan semata karena pukulan, tetapi karena kegagalan menahan amarah dan merawat dialog dalam lingkar keluarga.

Malam itu, Amfoang Selatan tidak hanya kehilangan seorang petani—tetapi juga kehilangan satu kesempatan untuk memilih damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *