MAPPI | BUSERKOTA.Com —
Malam di depan RSUD Mappi seharusnya menjadi ruang harap: tempat orang menunggu kesembuhan, bukan kematian. Namun Sabtu (7/2/2026) mengubah segalanya. Di tikungan sunyi itu, sebuah sepeda motor menghantam median pembatas jalan, dan seorang pria bernama RMS (41) menghembuskan napas terakhirnya sebelum sempat mendapat pertolongan.
Tak ada tabrakan beruntun. Tak ada kendaraan lain. Hanya sebuah Yamaha Mio M3 tanpa nomor polisi, sebuah tikungan, dan dugaan kuat bahwa alkohol telah lebih dulu mengaburkan kesadaran pengendara.
Warga yang pertama kali tiba di lokasi menemukan tubuh RMS tergeletak di sisi median pembatas jalan. Posisi motornya ringsek, sementara tubuh korban tak lagi bergerak. Area tersebut dikenal cukup menikung—dan malam itu, menjadi saksi bisu kecelakaan tunggal yang berujung maut.
Benturan keras membuat RMS terjatuh dan mengalami luka parah di bagian kepala. Nyawanya tak tertolong. Ia meninggal dunia di tempat kejadian, beberapa meter dari rumah sakit—ironi yang menyisakan perih.
Polisi yang datang ke lokasi segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dari pemeriksaan awal, aroma alkohol tercium menyengat dari tubuh korban. Temuan itu menguatkan dugaan bahwa korban berkendara dalam kondisi tidak sadar sepenuhnya.
“Kecelakaan ini merupakan kecelakaan tunggal. Dari hasil pemeriksaan di lapangan, korban diduga berada di bawah pengaruh alkohol sehingga kehilangan konsentrasi saat berkendara,”
ujar Kasat Lantas Polres Mappi, Ipda Aswar Abdullah, S.H.
Kendaraan korban telah diamankan dalam kondisi ringsek sebagai bagian dari penyelidikan lanjutan. Sementara jenazah RMS dievakuasi ke RSUD Mappi untuk proses visum sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Tragedi ini kembali menegaskan satu kenyataan pahit: alkohol dan kendaraan bermotor adalah kombinasi mematikan. Dalam hitungan detik, keputusan yang keliru dapat berubah menjadi kehilangan yang tak tergantikan—bagi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang ditinggalkan.
Di median jalan depan rumah sakit itu, malam kembali sunyi. Namun duka telah menetap, menjadi pengingat keras bahwa keselamatan di jalan bukan hanya soal keterampilan mengemudi, tetapi juga kejernihan nurani sebelum memutar kunci kendaraan.














