Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Jenazah Wili Mbuik Pulang, Duka Menembus Wamena WAMENA,

2
×

Jenazah Wili Mbuik Pulang, Duka Menembus Wamena WAMENA,

Sebarkan artikel ini

WAMENA | BUSERKOTA.Com — Pesawat yang meninggalkan Bandara Wamena pada Kamis (10/9/2026) membawa lebih dari sebuah jenazah. Di dalamnya, ada perjalanan terakhir seorang perempuan muda berusia 25 tahun yang harus pulang bukan dengan langkahnya sendiri, melainkan dalam keheningan peti jenazah.

Namanya Wili Mbuik.

Pegawai Dinas Pertanian itu menjadi korban penembakan oleh kelompok bersenjata saat berada di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya.

Luka tembak serius di bagian pinggang kanan membuat hidupnya berakhir secara tragis.

Pada Kamis itu, jenazah Wili resmi diberangkatkan dari Bandara Wamena menuju Jayapura. Proses pengiriman berlangsung aman dan lancar sebelum selanjutnya jenazah diterbangkan menuju kampung halamannya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, tempat keluarga menunggu untuk memberikan penghormatan terakhir dan memakamkannya.

Namun, bagi keluarga di Kupang, perjalanan pulang Wili bukanlah kepulangan yang pernah mereka bayangkan.

Ia pulang membawa duka.

Pulang dalam Peti, Bukan Pelukan

Kabar kepergian Wili datang seperti luka yang sulit diterima. Usianya masih muda. Pengabdiannya sebagai pegawai Dinas Pertanian baru menjadi bagian dari perjalanan hidup yang semestinya masih panjang.

Kini, keluarga hanya dapat menunggu kedatangan jenazahnya.

Tidak ada lagi percakapan seperti sebelumnya. Tidak ada lagi kesempatan menyambut kepulangannya dengan pelukan.

Yang tersisa adalah kenangan dan sebuah kepulangan terakhir menuju tanah kelahiran.

“Ada kepulangan yang seharusnya disambut dengan pelukan, tetapi kali ini keluarga hanya dapat menyambutnya dengan air mata.”

Kepergian Wili yang begitu mendadak meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar yang menantinya di Kupang.

Tetapi di tengah kesedihan itu, keluarga juga mengungkap pengalaman yang menambah luka batin mereka.

Ponsel Korban dan Luka Keluarga

Keluarga menyebut, setelah aksi penembakan terjadi, ponsel milik Wili sempat dikuasai atau disita oleh kelompok bersenjata.

Dalam sebuah komunikasi melalui video call, keluarga mengaku melihat orang-orang yang memegang ponsel tersebut.

Menurut keterangan keluarga, mereka tampak tertawa dan menunjukkan gestur yang dinilai sangat tidak pantas di tengah situasi duka yang sedang mereka alami.

Bagi keluarga, pengalaman itu bukan hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga menambah berat kehilangan yang sedang mereka tanggung.

Mereka kehilangan seorang anak, saudara, dan anggota keluarga.

Dan dalam suasana seperti itu, setiap tindakan yang dianggap merendahkan korban maupun keluarga dapat meninggalkan luka yang jauh lebih dalam.

“Di balik sebuah jenazah, ada keluarga yang sedang berusaha menerima kehilangan. Karena itu, duka semestinya dihormati, bukan dilukai kembali.”

Keterangan mengenai penguasaan ponsel serta perilaku orang-orang yang terlihat dalam video tersebut merupakan informasi yang disampaikan pihak keluarga. Karena itu, fakta mengenai siapa saja yang berada dalam video, motif tindakan mereka, dan konteks lengkap peristiwa tersebut tetap membutuhkan verifikasi lebih lanjut.

Kekerasan yang Menyisakan Luka Panjang

Secara kontekstual, kematian Wili kembali memperlihatkan betapa konflik bersenjata tidak pernah berhenti pada suara tembakan. Dampaknya menjalar kepada keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat yang kehilangan rasa aman. Ketika seorang warga sipil menjadi korban, persoalannya bukan hanya tentang bagaimana sebuah peristiwa terjadi, tetapi juga bagaimana negara memastikan keselamatan masyarakat serta bagaimana setiap korban diperlakukan secara bermartabat setelah kehilangan nyawa.

Wili kini meninggalkan Wamena.

Perjalanan berikutnya membawanya menuju Jayapura, lalu Kupang—tanah tempat keluarga akan mengantarkan dirinya ke peristirahatan terakhir.

Jarak yang ditempuh jenazahnya begitu panjang.

Namun bagi keluarga, yang jauh lebih panjang adalah perjalanan untuk menerima kenyataan bahwa seseorang yang mereka cintai tidak akan pernah kembali dalam keadaan hidup.

Pesawat dapat membawa jenazah Wili menuju rumah terakhirnya.

Tetapi tidak ada perjalanan yang mampu membawa kembali usia 25 tahun yang terenggut secara tragis.

Di Kupang, keluarga mungkin akan menangis. Tanah akan menerima tubuhnya. Doa-doa akan dipanjatkan. Dan nama Wili perlahan menjadi bagian dari kenangan yang tidak akan pernah benar-benar selesai.

“Ketika suara senjata merenggut satu nyawa, yang ikut kehilangan bukan hanya korban, tetapi seluruh keluarga yang harus belajar hidup dengan ruang kosong selamanya.”

Wili Mbuik akhirnya pulang. Bukan untuk memulai kehidupan baru, melainkan untuk beristirahat di tanah kelahirannya—meninggalkan satu pesan sunyi bahwa di balik setiap konflik, selalu ada manusia yang kehilangan masa depan, dan keluarga yang harus menanggung dukanya seumur hidup.

 

Penulis: Redaksi Buserkota.com Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *