ATAMBUA, BUSERKOTA.COM – Sabtu sore itu, suasana tenang di sebuah rumah di kawasan Asuulun, RT 22/RW 04, Kelurahan Fatukbot, Kecamatan Atambua Selatan, tepat di belakang Kantor Camat, nyaris berubah menjadi mimpi buruk.
Di tengah rutinitas akhir pekan yang berjalan biasa, dua orang asing datang membawa wajah ramah dan tawaran yang terdengar meyakinkan. Mereka mengaku menawarkan jasa urut sambil mempromosikan Minyak Dayak. Namun di balik bahasa yang halus dan sikap yang tampak bersahabat, tersimpan dugaan modus penipuan yang diduga memanfaatkan kepercayaan serta kelengahan calon korban.
Menurut informasi yang diperoleh, kedua pelaku berbagi peran. Satu orang mendekati korban dengan dalih pengobatan tradisional, sementara rekannya berupaya mengalihkan perhatian penghuni rumah lainnya. Situasi kemudian berkembang ke arah yang mencurigakan ketika pelaku mulai menanyakan lokasi penyimpanan uang dan perhiasan milik korban.
Tak berhenti di situ, pelaku juga diduga menggunakan trik manipulasi visual. Ia meminta abu dapur, lalu menunjukkan bercak menyerupai darah pada kaki korban untuk menciptakan kepanikan dan meyakinkan bahwa korban sedang mengalami gangguan kesehatan yang harus segera ditangani.
Namun rencana tersebut tidak berjalan mulus.
Kejelian seorang anggota keluarga menjadi titik balik yang menggagalkan seluruh skenario. Anak korban yang melihat sejumlah kejanggalan segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia langsung bertindak cepat mengamankan orang tuanya dan menghentikan proses yang sedang berlangsung.
╔════════════════════════════════════╗ ║ “We lu pulang sudah. Ini bukan cara ║ ║ berobat begini. Minta uang kita ║ ║ simpan di mana, gelang simpan di ║ ║ mana. Ini penipuan, ingin rampok. ║ ║ Lebih baik kau jalan sudah daripada ║ ║ kami teriak warga datang hajar kau ║ ║ di sini.” ║ ╚════════════════════════════════════╝
Ucapan tegas pemilik rumah tersebut sontak membuat situasi berubah. Pelaku akhirnya memilih meninggalkan lokasi sebelum warga sekitar berdatangan.
Peristiwa ini menjadi peringatan penting bahwa pelaku kejahatan kini semakin kreatif dalam menjalankan aksinya. Mereka tidak selalu datang dengan ancaman atau kekerasan, tetapi kerap menyusup melalui celah kepercayaan, belas kasihan, hingga keyakinan masyarakat terhadap pengobatan alternatif yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.
Warga setempat pun mengingatkan masyarakat Kabupaten Belu agar lebih berhati-hati menerima tamu yang tidak dikenal, terutama apabila mulai menanyakan keberadaan uang, perhiasan, atau barang berharga lainnya di dalam rumah.
Kasus yang nyaris terjadi di Atambua Selatan ini mengajarkan satu hal sederhana namun sangat berharga: kewaspadaan sering kali menjadi benteng pertama yang mampu menggagalkan niat jahat sebelum berubah menjadi sebuah tragedi.














