Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaHukum & KriminalPeristiwa

Natal yang Tersentak di Kuanino: Knalpot Bising, Perlawanan, dan Sunyi di Ujung Jalan Sudirman

209
×

Natal yang Tersentak di Kuanino: Knalpot Bising, Perlawanan, dan Sunyi di Ujung Jalan Sudirman

Sebarkan artikel ini

KUPANG | BUSERKOTA.COM
Malam Natal belum sepenuhnya reda di Kuanino. Lampu-lampu rumah masih menyala, sisa doa dan lagu pujian masih menggantung di udara. Namun di Jalan Sudirman, Jumat malam, 26 Desember 2025, pukul 19.00 WITA, suasana damai itu tersentak oleh raungan knalpot brong—bising, liar, dan memecah ketenangan.

Natal yang semestinya sunyi berubah menjadi panggung penertiban. Unit Jatanras Sat Reskrim, didampingi personel Sat Lantas Polresta Kupang Kota, turun ke jalan. Bukan untuk merusak perayaan, melainkan untuk menjaga ruang publik tetap waras di tengah hiruk-pikuk pasca-hari suci.

Di tengah kesibukan malam itu, tiga orang diamankan. Mereka sempat melakukan perlawanan saat petugas menertibkan kendaraan berknalpot brong. Peristiwa tersebut bahkan bergulir cepat di media sosial—viral, ditonton, dikomentari, dihakimi.

Namun di balik video pendek dan sudut kamera yang terbatas, ada kisah yang lebih panjang: tentang anak-anak muda, tentang jalanan kota, tentang kebebasan yang bertabrakan dengan ketertiban.

Tiga nama itu kini tercatat dalam laporan kepolisian.
Yusuf Nome (33), warga Kelurahan Airmata.
Samy Michel Zaktin Ndoen (23), dari Nunleu.
Dan Aldi Aminsyam (28), warga Kuanino—jalan yang menjadi lokasi kejadian.

Mereka datang dari latar berbeda, keyakinan berbeda, namun bertemu pada satu titik yang sama: malam Natal yang gaduh.

Catatan kepolisian menyebutkan, saat diamankan ketiganya tidak lagi melakukan perlawanan. Mereka kemudian dibawa ke Mako Sat Lantas Polresta Kupang Kota untuk proses lebih lanjut. Jalan kembali lengang. Raungan knalpot menghilang, digantikan desir angin dan suara langkah petugas yang kembali ke pos masing-masing.

Di sinilah cerita ini berubah menjadi refleksi.

Natal bukan hanya soal pohon terang dan lagu rohani. Natal adalah tentang menghormati ruang bersama, tentang memahami bahwa kebebasan satu orang berakhir ketika ketenangan orang lain terusik. Knalpot brong bukan sekadar persoalan teknis lalu lintas—ia adalah simbol kegaduhan sosial, tanda bahwa kota sedang belajar mendewasakan dirinya sendiri.

Seorang petugas di lokasi, dengan suara rendah, sempat berujar:

“Kami tidak ingin merusak Natal siapa pun. Kami hanya ingin malam ini tetap aman, tenang, dan manusiawi.”

Kuanino malam itu kembali sunyi. Tapi sunyi yang menyisakan pertanyaan:
Apakah kota ini cukup ramah bagi warganya yang ingin tenang?
Apakah jalanan hanya milik kecepatan dan kebisingan, atau juga milik doa-doa yang baru saja selesai dipanjatkan?

Natal telah lewat.
Namun pesan malam itu tinggal lama di aspal Jalan Sudirman:
Damai tidak datang dengan suara paling keras, melainkan dengan saling menahan diri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *