Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & KriminalInfo Publik

Pilot Ditembak di Boven Digoel, Yoakim Mujizau: “Jangan Seret Warga Sipil dalam Konflik Bersenjata”

193
×

Pilot Ditembak di Boven Digoel, Yoakim Mujizau: “Jangan Seret Warga Sipil dalam Konflik Bersenjata”

Sebarkan artikel ini

Tim Mediasi Papua Tengah Kecam Aksi TPNPB, Tegaskan Perlindungan Terhadap Penerbangan Perintis

PAPUA | BUSERKOTA.COM – Insiden penembakan terhadap pilot dan co-pilot pesawat perintis di wilayah Boven Digoel, Kamis (12/02/2026), menuai kecaman keras dari Ketua Tim Mediasi Penanganan Konflik Bersenjata Kabupaten Intan Jaya Papua Tengah, Yoakim Mujizau.

Aksi tersebut diduga dilakukan oleh Kelompok TPNPB Wilayah Pertahanan XVI Yahukimo dari Batalyon Kabibal di bawah Panglima Brigjen Elkius Kobak serta Komandan Operasi Kopitua Heluka.

Yoakim menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap prinsip kemanusiaan karena pesawat perintis selama ini berfungsi melayani masyarakat sipil di wilayah terpencil Papua.

“Itu tindakan tidak manusiawi. Pesawat perintis hadir untuk menjangkau kampung dan distrik yang belum sepenuhnya terlayani. Para pilot mempertaruhkan keselamatan demi kebutuhan hidup masyarakat,” tegas Yoakim.

Penerbangan Perintis, Akses Vital Warga Pedalaman

Menurutnya, keberadaan pesawat perintis sangat krusial dalam distribusi logistik dan mobilitas warga. Bahan pokok seperti beras, gula, garam, minyak goreng, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya dikirim melalui jalur udara.

Selain itu, pesawat kecil tersebut menjadi sarana transportasi utama masyarakat yang hendak bepergian dari dan ke wilayah terisolir.

“Pemerintah kabupaten tidak mungkin menjangkau semua distrik secara langsung. Pesawat perintis menjadi penghubung utama pelayanan,” ujarnya.

Yoakim menegaskan bahwa dalam situasi konflik bersenjata sekalipun, warga sipil tidak boleh menjadi target.

Kombatan Jangan Libatkan Sipil

Ia menyampaikan bahwa jika terjadi konflik bersenjata, maka yang berhadapan haruslah pihak kombatan, bukan tenaga sipil seperti pilot, tenaga kesehatan, guru, maupun masyarakat umum.

“Kalau mau berperang, silakan dengan kombatan. Jangan meneror atau menembaki pilot dan warga sipil lainnya,” katanya.

Lebih lanjut, ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam gerakan bersenjata di wilayah pegunungan Papua agar tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

“Kemanusiaan itu di atas segala-galanya. Jangan mengesampingkan kemanusiaan dalam perjuangan apa pun,” tegas Yoakim.

Tim Mediasi berharap insiden serupa tidak kembali terulang dan semua pihak dapat menahan diri demi keselamatan masyarakat sipil yang selama ini menggantungkan hidup pada akses pelayanan terbatas di wilayah pedalaman Papua.

Buserkota.com akan terus memantau perkembangan situasi dan upaya penyelesaian konflik di wilayah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *