Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita UtamaInfo PublikPemerintahanPeristiwaTeknologi

Polisi Yang Mengajar Dengan Hati

961
×

Polisi Yang Mengajar Dengan Hati

Sebarkan artikel ini

Aipda Bernadus Malo dan Jalan Sunyi Pengabdian dari Ruang Kelas hingga Ladang Warga Sumba Barat

SUMBA BARAT |BUSERKOTA.Com — Pagi di Loli belum sepenuhnya bising. Angin dari perbukitan turun perlahan, menyentuh halaman sekolah yang masih basah oleh embun. Di ruang kelas sederhana itu, seorang polisi berdiri di depan papan tulis. Bukan sedang menginterogasi, bukan pula memimpin apel. Ia mengajar.

Namanya , seorang Bhabinkamtibmas di Kabupaten , Nusa Tenggara Timur. Pangkatnya Aipda. Gelarnya Sarjana Pendidikan. Tetapi bagi murid-murid di dan , ia lebih dari sekadar aparat negara. Ia adalah guru yang datang dengan keteladanan.

Di tangannya, kapur bukan hanya alat tulis. Ia adalah jembatan antara disiplin dan mimpi.

Polisi yang Mengajar dengan Hati

Di kelas Bahasa Inggris, suaranya tegas namun bersahabat. Ia tidak sekadar mengajarkan grammar dan vocabulary. Ia menyisipkan wawasan kebangsaan, disiplin waktu, serta nilai-nilai nasionalisme.

Para siswa mendengarkan dengan antusias. Metode mengajarnya sederhana, membumi, dan mudah dipahami. Tidak kaku seperti stereotip aparat, tidak pula berjarak seperti pejabat.

╔══════════════════════════════════╗
“Anak-anak ini bukan sekadar murid. Mereka adalah masa depan Sumba, masa depan Indonesia. Jika mereka berhenti sekolah, kita kehilangan satu cahaya.”
╚══════════════════════════════════╝

Di sela tugas sebagai Bhabinkamtibmas, ia menyempatkan diri mendatangi rumah siswa yang absen. Jalan berbatu, jarak yang tidak dekat, dan medan yang kadang menantang tak menyurutkan langkahnya.

Ia ingin tahu alasan ketidakhadiran mereka: apakah karena ekonomi, jarak, atau sekadar kehilangan motivasi. Baginya, satu anak putus sekolah adalah satu alarm bagi masa depan.

Di ruang-ruang sederhana itulah, seragam cokelat menemukan maknanya yang paling sunyi: menjaga bukan hanya keamanan, tetapi juga harapan.

Dari Papan Tulis ke Pematang Sawah

Namun pengabdian Bernadus Malo tak berhenti di sekolah. Di Kelurahan Weedabo, Kecamatan Loli, ia hadir bersama petani dalam program ketahanan pangan. Ia membentuk dan mendampingi Kelompok Tani Gotong Royong—mendorong warga mengolah lahan, menanam, hingga panen.

Di ladang yang disiram matahari Sumba, ia berdiri sejajar dengan petani. Tangannya tak segan memegang cangkul. Ia berdialog tentang pupuk, tentang musim, tentang hasil panen.

╔══════════════════════════════════╗
“Kemandirian pangan adalah kedaulatan. Jika desa kuat, bangsa akan kokoh.”
╚══════════════════════════════════╝

Pendampingan itu menumbuhkan semangat baru. Petani merasa didengar, dibimbing, dan didukung. Hasil produksi meningkat. Kepercayaan diri tumbuh.

Di sini, polisi bukan simbol kekuasaan. Ia menjadi katalisator perubahan.

Presisi yang Humanis, Bukan Sekadar Slogan

Dedikasi tersebut mendapat apresiasi dari Kapolda NTT melalui Kabidhumas Polda NTT. Pengabdian yang dilakukan Aipda Bernadus Malo dinilai sebagai wajah nyata Polri Presisi—hadir secara humanis, solutif, dan membumi.

Tetapi bagi masyarakat Loli dan Weedabo, penghargaan itu hanyalah formalitas. Yang mereka rasakan adalah kehadiran yang konsisten.

Seorang polisi yang datang bukan saat konflik meletup, tetapi ketika anak-anak butuh guru dan petani butuh pendamping.

Keteladanan yang Melampaui Seragam

Kisah ini bukan tentang pangkat. Bukan pula tentang citra institusi. Ia adalah tentang seorang manusia yang memahami makna pengabdian secara utuh.

Di Sumba Barat, pengabdian itu hadir dalam dua ruang sekaligus: ruang kelas dan ladang.

Di antara debu kapur dan tanah basah, Bernadus Malo menulis narasi baru tentang Polri—bahwa menjaga negeri bisa dimulai dari mengajarkan satu kalimat Bahasa Inggris, atau menanam satu benih jagung.

╔══════════════════════════════════╗
“Seragam hanyalah tanda. Ketulusanlah yang membuatnya bermakna.”
╚══════════════════════════════════╝

Dan di ujung hari, ketika matahari Sumba tenggelam perlahan, mungkin tak ada sorot kamera. Tak ada tepuk tangan panjang.

Yang ada hanyalah anak-anak yang kembali bersemangat ke sekolah, dan petani yang menatap sawahnya dengan keyakinan baru.

Di situlah, pengabdian menemukan rumahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *