ATAMBUA | BUSERKOTA.COM — Malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat bagi para guru setelah mengabdi di ruang kelas berubah menjadi mimpi buruk di kawasan Halilulik, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Seorang guru muda dilaporkan menjadi korban dugaan penganiayaan setelah menegur sekelompok pemuda yang diduga mabuk dan mengganggu guru perempuan di sebuah warung makan.
Korban diketahui bernama Dodi Ricard Giri, guru SDI Halibesin, Desa Rinbesi Hat. Kepada media ini, Kamis (28/05/2026), Dodi menceritakan detik-detik dirinya mengalami intimidasi, pemukulan hingga dikejar sambil dilempari batu oleh sejumlah pemuda.
Peristiwa itu bermula saat Dodi bersama rekan-rekan guru singgah makan di sebuah warung sekitar Tugu Seroja, Halilulik, sepulang dari sekolah. Tidak lama kemudian, datang beberapa pemuda yang diduga berada dalam pengaruh minuman keras.
Menurut Dodi, para pemuda mulai mengganggu guru-guru perempuan yang berada di lokasi. Melihat situasi tersebut, dirinya spontan menegur dengan cara baik.
«“Saya hanya bilang, kalau mabuk bicara yang baik sedikit karena teman-teman guru perempuan mulai merasa tidak nyaman,” tutur Dodi.»
Namun teguran itu justru memancing kemarahan para pemuda. Korban mengaku mulai dihina dan dicaci dengan kata-kata kasar bernada tantangan.
Merasa situasi tidak aman, Dodi memilih keluar dari warung. Akan tetapi salah satu pelaku disebut mengikuti dirinya keluar dan mulai mendorongnya untuk berkelahi.
“Saya sudah berusaha menghindar karena teman-teman guru juga menahan saya supaya jangan terpancing,” katanya.
Ketegangan semakin meningkat ketika pelaku memukul tempat duduk motor korban. Saat itu, di atas motor terdapat tas milik korban yang berisi dua unit handphone.
Korban yang tersulut emosi sempat terlibat adu mulut dengan pelaku. Salah satu pelaku kemudian diduga mencoba mencekik korban, namun berhasil dihindari.
«“Setelah itu dia bilang saya tunggu di situ karena dia mau panggil teman-temannya,” ungkap Dodi.»
Sekitar lima menit kemudian, pelaku kembali bersama dua rekannya yang disebut bernama Poli, Elgi dan Anus. Salah satu dari mereka, yakni Elgi, diduga langsung memukul korban hingga mengenai bibir sebelah kiri.
Tidak berhenti sampai di situ, para pelaku juga disebut mengambil batu dan melempari korban. Dalam kondisi terdesak, korban memilih melarikan diri demi menyelamatkan diri.
“Saat saya lari mereka masih terus mengejar sambil lempar batu. Mereka berhenti setelah ada ibu-ibu di sekitar lokasi yang menegur,” jelasnya.
Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polsek Tasifeto Barat, Polres Belu hingga Polda NTT. Korban mengaku sudah tiga kali menjalani pemeriksaan, namun hingga kini para terduga pelaku belum diamankan.
«“Saya berharap polisi segera menangkap para pelaku agar diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Dodi.»
Dalam perspektif hukum, kasus ini dapat dijerat dengan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Selain itu, apabila terbukti dilakukan secara bersama-sama di muka umum, para pelaku juga berpotensi dijerat Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan atau kekerasan bersama terhadap orang.
Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa, S.H., S.I.K melalui Kapolsek Tasifeto Barat Ipda Maksi Disyon Imanuel Ninu saat dikonfirmasi Redaksi Media Group Buserkota.Com, Belupos.Com dan Lintastimor.Id, Jumat (29/05/2026), membenarkan adanya laporan tersebut.
“Benar kasus ini dilaporkan ke Polsek dan sudah kami proses secara profesional. Sebagai bentuk transparansi, kami selalu memberikan SP2HP kepada korban serta terus berkomunikasi dengan korban,” jelas Kapolsek.
Ia mengatakan pihak kepolisian telah dua kali melayangkan undangan klarifikasi kepada para terduga pelaku, namun mereka tidak hadir memenuhi panggilan.
«“Karena terduga pelaku tidak hadir, minggu depan kami sudah agendakan gelar perkara untuk ditingkatkan ke tahap penyidikan di Polres Belu,” tegasnya.»
Kapolsek juga menambahkan bahwa penyidik Polsek Tasbar beberapa kali mendatangi rumah para terlapor guna mencari keberadaan mereka untuk dimintai keterangan, namun para terlapor belum ditemukan.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi kehidupan sosial di Belu. Guru yang seharusnya dihormati sebagai penjaga nilai dan pendidikan justru menjadi korban kekerasan saat mencoba menegur tindakan yang dianggap mengganggu ketertiban umum. Ketika ruang publik kehilangan penghormatan terhadap etika dan pendidikan, maka sesungguhnya masyarakat sedang berdiri di tepi krisis moral yang perlahan menggerus rasa saling menghargai.
Di ujung malam Halilulik itu, seorang guru pulang bukan membawa buku atau cerita tentang murid-muridnya, melainkan luka, ketakutan, dan harapan agar hukum tetap menjadi tempat terakhir mencari keadilan.














