Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
OlahragaPeristiwa

16 Atlet Disabilitas Belu Berangkat Membawa Semangat

20
×

16 Atlet Disabilitas Belu Berangkat Membawa Semangat

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA | BUSERKOTA.COM — Di Lantai I Kantor Bupati Belu, Kamis (17/9/2026), semangat itu tidak datang dalam bentuk sorak kemenangan. Ia hadir lebih sederhana: melalui langkah 16 atlet pelajar disabilitas yang bersiap membawa nama Kabupaten Belu menuju Kota Kupang untuk mengikuti Pekan Paralympic Pelajar Daerah.

Para atlet dari SLB Tenubot dan SLB Bhakti Luhur Kabupaten Belu itu akan bertanding dalam dua cabang olahraga, atletik serta tenis meja. Mereka membawa kemampuan, keberanian, dan harapan untuk menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengembangkan bakat.

Di hadapan para atlet dan pendamping, Bupati Belu Willybrodus Lay, S.H., melepas kontingen tersebut dengan pesan yang tidak menempatkan medali sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia justru menekankan pentingnya keberanian untuk berjuang dan kesempatan menunjukkan kemampuan.

“Kalian membawa nama Kabupaten Belu. Pekan Paralympic ini menjadi kesempatan bagi kita untuk terus membangun semangat dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki. Pemerintah Kabupaten Belu sudah mendukung anak-anak kita demi meraih prestasi. Pulang tidak bawa medali tidak apa-apa. Bukan medali yang kita cari, tetapi bagaimana memberikan semangat untuk terus berjuang. Tuhan ciptakan manusia tidak ada yang sempurna. Tetap harus semangat,” pesan Bupati Willybrodus Lay.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa bagi pemerintah daerah, keikutsertaan para atlet bukan sekadar mengejar hasil pertandingan. Ada nilai yang lebih mendasar: memberi ruang kepada anak-anak penyandang disabilitas untuk tampil, menguji kemampuan, membangun keberanian, dan merasakan pengalaman berkompetisi bersama atlet pelajar dari daerah lain.

Semangat itu kemudian dilengkapi dengan pesan mengenai kesehatan dan pendampingan. Bupati meminta para pendamping memberikan perhatian secara maksimal selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung. Baginya, perjalanan menuju arena pertandingan harus menjadi perjalanan yang aman sekaligus memberi pengalaman positif bagi para atlet.

“Saya melepas atlet-atlet disabilitas ini dengan harapan kalian dapat bertanding dengan semangat. Para pendamping juga harus mendampingi dengan baik, sehingga pergi dalam keadaan sehat dan pulang juga dalam keadaan sehat,” pesannya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan kontingen tidak hanya dilihat dari capaian di arena pertandingan. Kondisi para atlet selama perjalanan, kesiapan mengikuti perlombaan, serta pendampingan yang baik juga menjadi bagian penting dari tanggung jawab bersama.

Sebanyak 16 atlet tersebut akan turun pada cabang atletik yang meliputi nomor lari, lompat, dan lempar, serta tenis meja. Keikutsertaan mereka menjadi bagian dari upaya memberikan ruang yang setara bagi pelajar penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi, bakat, dan prestasi di bidang olahraga.

Dalam konteks pembinaan olahraga pelajar, kompetisi menjadi ruang penting untuk mempertemukan bakat dengan pengalaman. Bagi atlet disabilitas, kesempatan bertanding juga berarti membuka panggung yang lebih luas agar kemampuan mereka dapat dilihat, dihargai, dan terus dikembangkan. Karena itu, dukungan pemerintah, sekolah, pendamping, dan keluarga menjadi mata rantai penting dalam perjalanan pembinaan tersebut.

Pelepasan kontingen turut dihadiri Ketua Nasional Paralympic Komite Indonesia Kabupaten Belu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Belu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Belu, para atlet, serta para pendamping.

Dari Atambua menuju Kota Kupang, 16 atlet itu membawa nama Kabupaten Belu di dada mereka. Mereka mungkin belum tahu apa yang menanti di garis finis atau di meja pertandingan, tetapi mereka telah membawa sesuatu yang lebih dahulu tumbuh sebelum perlombaan dimulai: keberanian untuk mencoba.

Sebab olahraga tidak selalu dimulai dari podium. Kadang ia bermula dari sebuah langkah kecil, dari keberanian meninggalkan rumah, dan dari keyakinan bahwa setiap anak—dengan segala keunikan yang dimilikinya—berhak mendapatkan kesempatan untuk bersinar.

Penulis: Redaksi Buserkota.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *