Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaHukum & Kriminal

Terseret dalam Pusaran Kasus dr. Icha, Veronika Lake Buka Suara: “Saya Datang untuk Membesuk, Bukan Mengintimidasi”

36
×

Terseret dalam Pusaran Kasus dr. Icha, Veronika Lake Buka Suara: “Saya Datang untuk Membesuk, Bukan Mengintimidasi”

Sebarkan artikel ini

TTU |BUSERKOTA.Com-Duka yang menyelimuti kepergian dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha belum menemukan garis akhir. Di tengah gelombang empati publik dan proses hukum yang terus berjalan, satu per satu nama yang terseret dalam peristiwa di RSU Leona mulai menyampaikan penjelasan. Kali ini, giliran anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), Veronika Lake, yang memilih membuka ruang klarifikasi.

Dengan nada yang tenang namun penuh kehati-hatian, Veronika menyampaikan bahwa kehadirannya pada hari itu bukanlah kunjungan yang dirancang, apalagi dengan niat memberi tekanan kepada siapa pun.

“Saya, Veronika Lake, dengan penuh kerendahan hati menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas berpulangnya dr. Icha. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta penghiburan,” ujarnya, Minggu (28/6/2026).

Menurut penuturannya, peristiwa bermula pada 13 Juni 2026 ketika dirinya menghadiri arisan istri anggota DPRD TTU di Kecamatan Insana. Dalam perjalanan kembali menuju Kefamenanu, ia menumpang kendaraan bersama dua rekan anggota DPRD dan seorang istri anggota DPRD.

Di tengah perjalanan itu, rombongan singgah di Instalasi Gawat Darurat RSU Leona. Ajakan datang dari Therensius Lazakar yang hendak menjenguk keponakannya yang sedang menjalani perawatan akibat gigitan ular berbisa. Karena berada dalam rombongan yang sama, Veronika ikut masuk untuk membesuk.

“Kehadiran saya di rumah sakit bukan kunjungan yang direncanakan sebelumnya,” kata Veronika.

Namun suasana yang semula sekadar kunjungan, menurut pengakuannya, berubah ketika percakapan di ruang pelayanan berkembang menjadi perdebatan. Saat Veronika memasuki area perawatan, dua rekannya disebut sudah lebih dahulu berdiskusi dengan seorang dokter.

Di titik itulah ia mengaku ikut menyampaikan pertanyaan mengenai tindak lanjut penanganan pasien, standar pelayanan, serta kualitas layanan kesehatan yang diberikan.

“Saat saya masuk, perdebatan antara dua rekan dan seorang dokter sudah berlangsung. Saya kemudian ikut menanyakan tindak lanjut penanganan pasien, standar pelayanan, dan kualitas layanan,” tuturnya.

Salah satu bagian yang menjadi sorotan publik adalah ucapan Veronika yang sempat terdengar: “panggil wartawan saja.” Kalimat itu kemudian memantik tafsir dan kontroversi.

Veronika menegaskan, pernyataan tersebut tidak diarahkan kepada dr. Icha sebagai pribadi, melainkan ditujukan dalam konteks evaluasi terhadap tata kelola pelayanan rumah sakit.

“Itu saya maksudkan sebagai usulan kepada rekan DPRD agar ada liputan eksternal dan investigatif terkait transparansi, evaluasi, dan perbaikan kualitas pelayanan kesehatan. Jadi, tidak ditujukan ke personal atau individu,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa setelah pihak manajemen RSU Leona dan dokter lain hadir memberikan penjelasan, situasi mereda dan diskusi dinyatakan selesai. Menurut keterangannya, dua anggota DPRD yang berada di lokasi telah menyampaikan permintaan maaf kepada manajemen rumah sakit dan dr. Icha pada hari yang sama. Veronika menambahkan dirinya tidak kembali lagi ke RSU Leona pada hari berikutnya.

Di tengah derasnya perhatian publik, Veronika memilih menempatkan proses hukum sebagai ruang untuk menemukan fakta yang utuh. Ia menyatakan siap memberikan keterangan apabila dibutuhkan oleh penyidik.

“Saya menghormati seluruh proses hukum yang sedang berjalan dan siap memberikan keterangan apabila diperlukan.”

Kasus ini sendiri berkembang setelah Polres TTU memeriksa sejumlah rekan kerja dr. Icha yang berada di IGD saat dugaan intimidasi terjadi. Tiga anggota DPRD yang disebut akan dimintai klarifikasi yakni Veronika Lake (PDIP), Norbertus Bani (PKB), dan Therensius Lazakar (Golkar). Kapolres TTU AKBP Eliana Papote menyatakan langkah pemeriksaan akan dilakukan sesuai prosedur.

Di balik seluruh klarifikasi yang bermunculan, publik sesungguhnya sedang menunggu sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bantahan atau pembelaan—yakni kepastian tentang apa yang benar-benar terjadi, dan apakah ada ruang yang selama ini luput dijaga dalam relasi antara kuasa, pelayanan publik, dan kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, sebuah duka tidak pernah selesai hanya dengan penjelasan; ia menuntut keberanian untuk mencari kebenaran, dan kebesaran hati untuk menerimanya.

Penulis: Redaksi Buserkota.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *