ATAMBUA |BUSERKOTA.Com — Senja belum sepenuhnya turun di Lapangan Umum Simpang Lima Atambua, Rabu (26/8/2026). Namun, suara bola yang dipukul keras, sorak penonton, dan langkah para pemain di lapangan seolah menjadi penanda bahwa bola voli Kabupaten Belu sedang menemukan kembali denyut kehidupannya.
Di tengah perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat, Turnamen Bola Voli Antar Kelurahan dan Kecamatan atau Demokrat Cup hadir bukan sekadar sebagai arena pertandingan. Bagi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Belu, Theodorus Manehitu Djuang, turnamen itu menjadi ruang penting bagi para atlet untuk kembali merasakan atmosfer kompetisi setelah olahraga bola voli Belu sempat lama kehilangan gaungnya.
Theodorus menyebut, bola voli di Belu pernah mengalami masa “mati suri” selama beberapa tahun. Kini, terbentuknya kepengurusan baru Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kabupaten Belu mulai membuka kembali jalan bagi pembinaan dan kompetisi.
“Setelah bola voli di Belu sempat ‘mati suri’ bertahun-tahun, kini telah terbentuk kepengurusan baru. Acara sore ini merupakan event kedua di bawah kepengurusan baru,” ujar Theodorus.
Bagi dia, kembalinya kompetisi bukan sekadar perkara siapa yang menang dan siapa yang kalah. Pertandingan adalah ruang untuk menguji kemampuan, membangun mental bertanding, sekaligus mempertemukan kembali para atlet dengan suasana kompetisi yang selama ini mereka rindukan.
Karena itu, Theodorus menyampaikan apresiasi kepada Ketua PBVSI Kabupaten Belu dan Ketua Umum PBVSI NTT yang dinilainya terus mendorong perkembangan bola voli di daerah.
Ia juga memberikan penghargaan kepada Partai Demokrat karena telah menyediakan panggung bagi para atlet melalui penyelenggaraan Demokrat Cup. Kehadiran turnamen tersebut dinilai penting untuk menjaga agar semangat olahraga tidak berhenti pada latihan, tetapi tumbuh melalui kompetisi yang berkesinambungan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Partai Demokrat atas penyelenggaraan turnamen ini. Semoga menjadi bagian dari kebangkitan bola voli di Kabupaten Belu,” katanya.
Kompetisi sebagai Jalan Pembinaan
Secara kontekstual, kebangkitan olahraga tidak cukup hanya dengan membentuk kepengurusan baru. Atlet membutuhkan pertandingan untuk mengukur kemampuan, pelatih membutuhkan kompetisi untuk membaca perkembangan pemain, sementara daerah membutuhkan sistem pembinaan yang konsisten untuk menemukan talenta-talenta baru. Karena itu, turnamen seperti Demokrat Cup memiliki arti lebih luas: menjadi mata rantai yang menghubungkan pembinaan, kompetisi, regenerasi, dan cita-cita membawa atlet Belu ke level yang lebih tinggi.
Theodorus berharap sinergi antara pemerintah, KONI, PBVSI, partai politik, dan masyarakat terus diperkuat. Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan agar pembinaan olahraga di Kabupaten Belu tidak berlangsung sesaat, melainkan tumbuh sebagai proses panjang dan berkelanjutan.
Sebab, dari lapangan sederhana dan sebuah pertandingan, masa depan olahraga daerah sering kali mulai ditulis. Di sana, seorang atlet muda belajar bukan hanya bagaimana memukul bola melewati net, tetapi juga bagaimana berdiri kembali setelah jatuh, bertanding setelah lama menunggu, dan bermimpi lebih tinggi dari batas lapangan yang ia pijak.
Bola voli Belu mungkin pernah terdiam, tetapi Demokrat Cup memberi tanda: denyut itu kini kembali terdengar.














