Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita NasionalBerita UtamaInfo PublikPemerintahanPeristiwaPolitikSosial

Solidaritas Belu Tak Padam, Bantuan Flores Kembali Dikirim

17
×

Solidaritas Belu Tak Padam, Bantuan Flores Kembali Dikirim

Sebarkan artikel ini

ATAMBUA | BUSERKOTA.COM — Pagi itu, halaman Polres Belu kembali menjadi saksi bahwa duka tidak selalu melahirkan kesunyian. Di antara tumpukan beras, air mineral, mie instan, selimut, popok bayi hingga perlengkapan kebersihan, terselip satu pesan yang jauh lebih besar: Flores tidak sendirian.

Rabu (26/08/2026), Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonsalves, ST, bersama Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa, S.H, SIK, melepas Kloter II bantuan peduli bencana gempa bumi Flores.

Bantuan tersebut merupakan hasil gotong royong Pemerintah Kabupaten Belu, Polres Belu, BPBD, jajaran Polsek, instansi, serta masyarakat.

Bukan sekadar pelepasan logistik. Momentum itu menjadi gambaran bagaimana batas administratif sebuah kabupaten dapat lenyap ketika kemanusiaan memanggil.

“Pintu Donasi Tetap Terbuka Lebar”

Wakil Bupati Belu Vicente Hornai menegaskan, Kloter II memang menjadi kloter terakhir yang dikumpulkan melalui Posko Polres dan Pemkab Belu.

Namun, menurut dia, berakhirnya pengiriman kloter bukan berarti berakhir pula kepedulian masyarakat.

“Ini adalah kloter terakhir yang dikumpulkan melalui Posko Polres dan Pemkab, namun pintu donasi tetap terbuka lebar.”

Vicente mengajak masyarakat yang masih ingin membantu agar tidak ragu menyalurkan bantuan melalui posko pemerintah daerah.

“Bagi siapa pun yang ingin menyumbang, posko pemerintah daerah di kantor BPBD Kabupaten Belu siap menerima. Semoga apa yang terkumpul dari Polsek-polsek, instansi, dan masyarakat Belu dapat benar-benar meringankan beban saudara kita di sana,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki makna yang panjang. Sebab dalam situasi bencana, bantuan sekecil apa pun dapat menjadi berarti bagi keluarga yang sedang bertahan dengan keterbatasan.

Bukan Hanya Beras dan Mie Instan

Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa memberikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat yang ikut mengambil bagian dalam pengumpulan bantuan.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada anggota Brimob Pelopor A Atambua serta ibu-ibu Bhayangkari yang turut berkontribusi.

Menariknya, bantuan yang dikumpulkan tidak hanya berisi kebutuhan pangan.

Ada selimut. Ada sabun. Ada popok bayi. Ada kebutuhan khusus perempuan.

Barang-barang yang sering luput dari perhatian ketika bantuan bencana lebih banyak berfokus pada makanan, justru ikut dikirim dalam kloter ini.

“Terima kasih kepada semua pihak. Selain beras dan mie instan, kami juga mengumpulkan selimut, sabun, popok bayi, hingga kebutuhan khusus wanita,” kata Kapolres.

Ia berharap seluruh bantuan dapat tiba dalam kondisi baik dan digunakan sebagaimana mestinya.

“Kami berharap semua bantuan ini sampai dalam kondisi baik dan bermanfaat maksimal bagi korban,” lanjutnya.

Ribuan Kilogram Logistik Bergerak

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Belu drg. Maria Ansila F. Eka Mutty menjelaskan, seluruh bantuan Kloter II akan didroping ke Kantor BPBD Provinsi NTT.

Selanjutnya, BPBD Provinsi NTT akan menyalurkan bantuan tersebut ke wilayah terdampak.

Logistik yang dilepas merupakan akumulasi bantuan dari seluruh Polsek di Kabupaten Belu dan donasi masyarakat.

Untuk pangan dan minuman, tercatat:

  • 2.742 kilogram beras
  • 167 dos air mineral gelas
  • 90 dos air mineral 600 mililiter
  • 285 dos mie instan
  • 27 dos minyak goreng ukuran 1 liter
  • 6 dos sarden
  • 12 dos makanan ringan
  • 8,5 dos biskuit
  • 2 dos kopi sachet
  • 1 dos teh celup
  • 1 dos abon
  • Gula pasir, susu dan barang campuran lainnya.

Untuk sandang dan kebutuhan kebersihan, bantuan terdiri dari:

  • 17 dos popok/pampers
  • 2 dos pakaian bayi
  • 4 dos selimut dan handuk
  • 18 dos perlengkapan mandi dan cuci
  • Sikat gigi dan sabun.

Sementara kategori perlindungan dan kebutuhan lainnya meliputi:

  • 10 buah terpal
  • 2 dos Autan antinyamuk.

Ketika Data Logistik Menjadi Cerita Kemanusiaan

Di atas kertas, semua itu memang hanya angka dan daftar barang.

Namun di lapangan, 2.742 kilogram beras berarti ribuan kilogram harapan. Popok bayi berarti perhatian kepada keluarga yang sedang berjuang merawat anak di tengah situasi sulit. Selimut berarti kehangatan bagi mereka yang mungkin tidur jauh dari rumah.

Di situlah makna solidaritas menemukan bentuknya: bukan hanya pada besarnya bantuan, tetapi pada kesediaan untuk memikirkan kebutuhan orang lain, bahkan ketika mereka berada jauh dari pandangan.

Meski pengumpulan bantuan melalui Posko Polres dan Plaza Perijinan telah ditutup untuk kloter ini, masyarakat yang masih ingin berdonasi tetap diberikan ruang.

Drg. Ansila mengimbau masyarakat untuk mengantarkan bantuan langsung ke Kantor BPBD Kabupaten Belu.

Langkah tersebut dilakukan agar seluruh bantuan dapat tetap terkoordinasi dan disalurkan secara tepat sasaran hingga kondisi di Flores mulai stabil.

Sebab bencana memang dapat datang dalam hitungan detik.

Tetapi pemulihan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Dan selama masih ada tangan yang terulur, harapan bagi mereka yang terdampak akan selalu memiliki jalan untuk pulang.

Dari Belu untuk Flores, solidaritas itu kembali berangkat—membawa logistik, membawa doa, dan terutama membawa pesan bahwa dalam menghadapi bencana, tidak seorang pun seharusnya merasa sendirian.

 

Penulis: Redaksi Buserkota.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *